Amal Tabungan Tabungan Amal
Kuliah Online Ustadz Yusuf Mansyur Sesi - 4
Bagi yang cepat dikabulkan doa-doanya, barangkali sebab ia sudah punya duluan amal tabungannya, hingga kemudian Allah menganggapnya cukup amal untuk hajat yang diinginkannya.
Bagi yang kemudian telat sekali datangnya rahmat sedang dia sudah mulai masuk ke gerbang amal saleh, barangkali sebab begitu banyak dosa-dosanya, namun dia belom melakukan pertaubatan sepenuh-penuhnya.
***
Para Peserta KuliahOnline yang berbahagia. Sesuai dengan janji dari ujung esai yang sebelumnya, bahwa kita akan membahas sedikit dari lanjutan kisahnya Ibu Yuyun. Yang lupa bagaimana kisahnya, lihat lagi ya kisah Bu Yuyun tersebut. Bahwa ia dalam satu malam bisa mendapatkan solusi dari Allah bagi putranya yang mau masuk ke perguruan tinggi.
Buat saya, menarik sekali membahas kisah tersebut. Kalau cerita itu saya penggal hanya di hari itu, maka kesannya memang adalah doanya Bu Yuyun DIKABUL ALLAH DALAM SEHARI SEMALAM.
Ya, sorenya Bu Yuyun menerima khabar bahwa anaknya lulus. Lalu malamnya bangun malam bersama anaknya. Kemudian besoknya Allah menurunkan pertolongan lewat seorang paman yang menanggung biaya anaknya Bu Yuyun yang tidak lain adalah ponakannya.
Terlihat sangat Kun Fayakuun ya?
Satu malam jadi. Satu malam selesai.
Jawabannya, bisa ya bisa tidak.
Bisa ya, sebab kita lagi belajar nih bahwa Allah itu Begitu Kuasa. Jangankan hitungan jeda satu malam. Tanpa ada jeda pun Allah bisa. Namun bukan belajar namanya kalau kita tidak mengupas lebih jauh lagi.
Coba lihat detail cerita sebelumnya:
Bu Yuyun, sebut saja begitu, punya anak semata wayang yang ia besarkan tanpa suami. Sejak putranya ini masuk SMA kelas 1, suaminya meninggal. Dari hari ke hari ia kuatkan batinnya bahwa ia tidak sendirian dalam membesarkan anaknya. Ia bersama Allah. Allah selalu menemaninya. Ini yang ia yakini. Saban shalat ia berdoa agar diberi kemampuan membesarkan anaknya dan memiliki rizki yang cukup.
Lihat, nampak Bu Yuyun datang ke Allah, jauh-jauh hari sebelum anaknya dinyatakan lulus. Bukan baru malam itu saja ia datang ke Allah. Sekali lagi, dari jauh-jauh hari.
Kita buka lagi lembaran esai kuliah sebelumnya yang belajar dari kisah Bu Yuyun. Saya kembali menukilkan sedikit:
Bu Yuyun berdebar-debar. Ia tahu, kalau anaknya lulus, ini masalah buat dirinya. Kalau anaknya tidak lulus, pun masalah buat dirinya juga. Tentu saja ia senang dapat masalah dalam bentuk anaknya lulus. Masalahnya tentu saja apalagi kalau bukan uang kuliah anaknya. Tapi segera ia banting sesuai dengan pengalamannya selama ini. Ada Allah Yang Maha Memberi Rizki. Dan ini yang membuatnya tenang.
Ia tahu bahwa Allah Maha Tahu. Kondisi ini sudah ia sampaikan ke Allah jauh-jauh hari, bahwa ia butuh biaya buat anaknya lulus. Dia yakin, Allah pasti akan memenuhi kebutuhan anaknya, dan atau memberikan yang terbaik. Ia malah bersemangat sekali untuk menambah kedekatan dirinya dengan Allah.
Dan ini yang kita perlu belajar. Bu Yuyun mendatangi Allah sejak pagi-pagi ia mendapatkan masalah. Bahkan, sebenernya, jauh sebelum ia menghadapi persoalan biaya masuk anaknya ke perguruan tinggi ini, ia sudah berangkat menuju Allah. Ya, ia berdoa dan menitipkan kejadian-kejadian rizki di masa yang akan datang, sedari awal.
Bu Yuyun juga punya tabungan yang banyak sekali. Sementara insya Allah kalau melihat kepribadian dari story singkatnya, ia kelihatannya ibu yang salehah, yang sedikit dosanya.
***
Beda Bu Yuyun, beda pula dengan kita. Kebanyakan kita, mendatangi Allah, setelah kita mendapatkan masalah. Atau ketika kita ada keperluan. Meskipun mendatangi Allah, atau mendekatkan diri kepada Allah lewat pintu ini – pintu masalah dan hajat – adalah diperbolehkan (bahkan dianjurkan), namun sering membuat tauhid orang suka rusak jika ia suka buruk sangka, tidak sabar dan tiada ilmu. Andai Allah tidak segera mengabulkan, maka ia akan cenderung putus asa. Cenderung marah-marah, dan bahkan tidak sedikit menyalahkan orang yang menasihatinya.
Saya sering juga “disesali” orang. Ketika saya suruh seseorang bersedekah, lalu ia bersedekah di pertemuan pertama, dan ia tidak mendapati pertolongan Allah segera datang kepadanya, saat itulah tidak sedikit saya kemudian “disesali” oleh orang tersebut. Bahkan tidak jarang saya “diadili” dan “dipergunjingkan”. Padahal andai ia terusin ngajinya, ia lengkapi lagi pengetahuannya, dan ia sabarkan dirinya, insya Allah sedekahnya akan bekerja, ibadahnya akan bekerja.
Dengan belajar esai-esai Kuliah Tauhid, saya kepengen kita semua bergerak menuju Allah. Tidak ada yang pernah terlambat mendatangi Allah, hingga ia meninggal dunia. Sedang, meskipun sudah meninggal dunia, Allah masih berbaik-baik sama kita, dengan terus menyuburkan amal kebaikan kita ketika di dunia hingga saatnya nanti kita dihadapkan dengan Hari Hisab.
***
Sebagai penyerta KuliahOnline, sedari awal saya sertakan juga Program Riyadhah 40 Hari (lihat tugas). Semacam pesantren personal bagi setiap individu yang bertujuan menjaga rutinitas/keistiqamahan ibadah selama 40 hari.
Nah, bagi yang ikut serta Program Riyadhah 40 Hari, saya betul-betul meminta jamaah yang ingin ikut, membuka diri akan Kebesaran Allah, dan masuk ke program riyadhah dalam kepercayaan penuh dan masuknya juga dengan kekuatan penuh. Namun, sebelum itu, saya meminta kawan-kawan shalat taubat dulu seraya memohon ampun atas segala kesalahan yang barangkali belum sempat dimintakan ampunannya kepada Allah.
Sungguhpun demikian, tidak sedikit juga yang kemudian tidak menampakkan hasilnya, walaupun ia sudah menyelesaikan riyadhah di hari ke-40 nya. Dan sebaliknya, banyak juga yang kemudian mendapatkan berkah padahal ia belum menyelesaikan riyadhahnya. Mengapa? Banyak jawabannya. Dan insya Allah di lembaran-lembaran setelah lembaran ini, satu demi satu akan terkuak dengan izin-Nya.
Satu jawaban yang saya ingin katakan kepada Saudara semua di sini adalah: Kita ini udah kelewat lama ibadahnya ga bener. Kalo ga dibenerin sedari kita ini ada umur, sehat, sampe kapan lagi mau menunda? Iya kalo ada umur, dan sehat. Kalo engga ada, gimana? Diakui atau tidak, ampun dah. Kita-kita ini emang payah dan berantakan ibadahnya. Dengan masuk ke gerbang riyadhah 40 Hari, kita seperti menata ulang hidup kita. Hidup yang penuh ibadah. Kita stel ibadah-ibadah kita dari bangun tidur, sampe tidur lagi dan sampe tidurnya itu sendiri. Diset-up ulang.
Dan bukankah seharusnya memang seperti ini hidup kita? 40 hari menjadi hari-hari yang diharapkan ibadah Saudara menjadi karakter. Yakni menjadi perilaku. Menjadi kebiasaan yang dibiasakan oleh Saudara. Tadinya biasa ga shalat, jadi biasa lagi shalat. Tadinya biasa ga ke masjid, jadi biasa ke masjid. Tadinya biasa ga berjamaah, jadi biasa lagi berjamaah. Tadinya ga biasa baca al Qur’an secara rutin, ini kemudian berusaha mengkhatamkan. Baik bacaan, maupun terjemahannya. Ada yang biasa tidak dhuha, dan shalat malam. Sekarang jadi ga enak kalo ga dhuha dan tahajjud, sebagai udah dibiasakan selama 40 hari.
Memang asalnya mungkin ada yang berawal dari berharap pertolongan Allah datang. Yah, ga apa-apa. Mudah-mudahan Allah mengistiqomahkan setelahnya.
Oh ya, barangkali masih ada yang ga paham apa itu riyadhah ya? Itulah mengapa saya meminta Saudara mengkaji CD-CD atau DVD-DVD yang menjadi bahan ajar penunjang. Jika sudah mempelajari, tentu sudah paham dah apa itu maksudnya riyadhah. Riyadhah itu exercises. Latihan-latihan. Latihan apa? Latihan ibadah. Ditulis, dicatet, dan dilihat detail eksekusi ibadahnya satu demi satu, hari demi hari, sampe hari ke-40. Dimulai dari tahajjudnya jam berapa? Berapa rakaat? Witirnya ada apa engga? Istighfar di waktu sahurnya? Baca Qur’an di penghujung malamnya? Shubuhannya di masjid apa engga? Dan amalan-amalan yang diperlukan cek-lis nya secara jujur. Mirip seperti anak SD yang membawa buku Ramadhan yang harus ditandatangani oleh ustadz-ustadznya. Nah, harusnya, Saudara sudah kelar nih mempelajari DVD Riyadah 1 dan 2. Dan juga sudah melalap CD-CD dan DVD-DVD yang dianjurkan. Bergeraklah menuju Allah. Dekatkan diri kepada Allah.
Sekali lagi, satu hal yang saya mau jadikan pembelajaran buat diri saya pribadi, adalah apa yang saya katakan di bait-bait paragraf di atas. Bahwa saya pribadipun tatkala mendekatkan diri kepada Allah, saya sadar, saya pun lama sekali meninggalkan Allah atau lama sekali tidak memperhatikan Allah sepenuh-penuhnya perhatian. Lalu, saya tanamkan juga pemahaman kepada diri saya sendiri untuk bersabar menanti pertolongan Allah dengan menyabarkan diri terhadap apa yang terjadi selama saya menjaga ibadah dan keyakinan saya. Saya ajarkan diri saya, masakan ketika baru masuk sudah mau minta diperhatikan dan dijawab? Saya riangkan hati, bahwa mendekatkan diri saja kepada Allah, sudah merupakan satu keberuntungan.
Sampe ketemu di esai berikutnya. Kita berdoa untuk diri kita, keluarga kita, dan bangsa kita, agar hanya Allah saja yang menjadi Tuhan kita. Jangan ada yang lain. Dan agar kita menjadi hamba-Nya yang baik, yang ringan mengerjakan amal saleh, berilmu dan bagus keyakinan dan imannya kepada Allah.
Ocre, met belajar dan beramal, sampe ketemu di perkuliahan berikutnya. Jazaakumullaah ahsanal jazaa.
Oh ya, harapan saya juga, setelah Saudara mendengar tausiyah tentang 10 dosa besar, muncul bukan hanya ketakutan untuk jangan lagi melakukan dosa di kemudian hari, namun juga muncul kebersyukuran.
Koq kebersyukuran?
Ya, sebab kita masih diberi-Nya kesempatan hidup. Dan kalau kita masih hidup, masih sempat memohon ampun dan memohon rahmat-Nya. Kita sama-sama berdoa ya agar Allah kasih kita kesempatan bertaubat dan beramal saleh sebagus-bagusnya di ujung kehidupan kita ini.
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelom datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu barulah dia berkata, “Ya Tuhanku, kalau Engkau menangguhkan kematianku walau sebentaaaaar saja, aku akan sedekah dan jadi orang yang saleh.
Tapi Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang yang sudah sampe ajalnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (baca: Qs. al Munaafiquun: 10-11).
Baca tuh ayatnya. Langsung di al Qur’annya. Baca juga sebagai tugas buat Saudara: Qs. Aali ‘Imraan: 131 s/d 143. Baca ayat-ayatnya, dan baca terjemahannya.
Insya Allah Saudara yang sudah mulai meniti jalan-jalan taqorrub, yakni jalan-jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, mudah-mudahan Saudara bukan saja sedang menabung amal saleh setelah barangkali tabungan amal salehnya ga diisi-isi. Melainkan juga amal-amal saleh itu mengikis perbuatan buruk, mengikis perbuatan dosa. Semoga Allah memberikan kesempurnaan ampunan, dan menerima amal ibadah kita. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar