Selasa, 05 Februari 2013

MUKADDIMAH
Kuliah Online Ustadz Yusuf Mansyur 

Bismillaahirrohmaanirrohiim, saya mulakan Kuliah Tauhid ini dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi-Nya, Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam saya haturkan kepada Rasulullah Muhammad, keluarga, sahabatnya, dan segenap ummatnya hingga akhir zaman nanti.

Subhaanallaah! Betapa menyenangkan hati kegiatan belajar dan mengajar tauhid ini. Saya undang hampir semua kelompok manusia, lewat pintu KuliahOnline yang beragam sesuai dengan kebutuhannya dan keinginannya. Ada yang tidak bermasalah, tapi sekedar ingin belajar menambah wawasan. Ada pula yang memang bermasalah. Ada yang ingin memaknai kekayaannya. Ada yang ingin keluar dari kemiskinannya. Ada yang ingin memaknai pekerjaannya, usahanya, dagangnya, bisnisnya. Ada pula yang ga punya kerjaan, he he he, ga punya bisnis, ga punya modal. Ada yang selama ini ngandelin ikhtiar. Ada yang selama ini ngandelin orang lain. Hidupnya bergantung bener sama orang lain. Tapi ada yang selama ini udah ngandelin Allah. Hidupnya sepi dari meminta dan berharap sama manusia. Terhadap mereka yang terakhir ini sebenernya udah ga perlu belajar Kuliah Tauhid. Harusnya ngajar. Tapi mereka mau belajar ilmunya, mau nambah wawasannya. Ada yang sakit, ada yang sehat. Ada yang sedang bahagia hidupnya, berlimpah karunia. Ada yang sedang berduka, dan sempit hidupnya. Ada yang masih kepengen hidup lebih lama lagi. Ada yang udah kepengen aja mengakhiri hidupnya. Bosen sama hidup. Sebel.

Semuanya saya undang belajar di KuliahOnline.

KuliahOnline terdiri dari Kuliah Dasar, Kuliah Pilihan, dan Kuliah Solusi Terapan. Kuliah Dasar Tauhid adalah salah satu mata kuliah dasar di Kuliah Dasar.

Di pertemuan pertama nanti, kita langsung ngebut belajar tentang keyakinan. Ada orang yang bawa duit ke pasar, lalu bawa barang yang dia mau. Ini biasa. Ini ada orang yang bawa Allah ke pasar, bawa ajaran-Nya, bawa ajaran Rasul-Nya. Tapi pulang bawa barang lebih banyak daripada orang yang bawa duit.

Punya duit 12jt, ke showroom motor. Ke dealer motor. Lalu pulang bawa motor. Ini juga biasa. “Ga punya Tuhan juga bisa begini,” begitu saya suka bercanda. Nah, yang luar biasa, seseorang yang punya 12jt, bisa hemat 12jt yang dia punya. Alias ga perlu keluar apa-apa, tapi dapat motor. Dan kalo dapat motor masih biasa. Ini malah dapat lagi duit, dan dapat terus. Sampe kebeli mobil. He he he, ga percaya? Namanya juga belajar keyakinan.

Beli mobil, pake kredit, insya Allah bisa. Beli mobil, pake cara Allah, hingga malah punya showroom? Wuah… Ini dia yang saya ajak seluruh peserta Kuliah Tauhid untuk belajar ilmu yakin. Saya sendiri kayak punya showroom loh. He he he, mau pake mobil apa keq, tinggal sms aja ke kawan-kawan yang punya showroom, ha ha ha. Begini bunyinya: “Ada mobil apa di show-room yang bagus? Saya ada tamu dari Madinah. Mau pake mobil yang bagusan buat jemput.” Kontan tuh dikirim mobil second tahun muda, dari generasi terbaru tertinggi. Nah, ini ada rahasianya. Bukan sabab posisi saya. Tapi sabab posisi Saudara di mata Allah. Hingga Saudara menjadi khalifah. Menjadi TUAN di bumi ini. Allah perintahkan bumi dan langitnya tunduk pada Saudara.

Seseorang minjem mobil, lalu dapat mobil, sebab saudaranya dia barangkali pemurah. Ini biasa. Saudara yang berkenan saya ajarkan keyakinan, akan mendapati pelajaran menarik. Kenapa ga minjem sama Yang Maha Pemurah sekalian? DIA akan minjemin mobil, sekalian bensinnya, sekalian kemudian ga diambil-ambil lagi selama-lamanya, sampe saudara sendiri yang bosen! Sama dengan memiliki, sama dengan punya, ga pake mulangin, he he he.

Saudara yang punya hutang, bisa bayar sebab ada duit, masih biasa. Nanti kita penuh belajar ilmu yakin di pertemuan perdana, apakah hutang bisa kebayar dengan keyakinan Saudara kepada ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Saudara yang bisa membantu saudaranya Saudara, sebab Saudara mampu, ada duit, ada koneksi, ada kesempatan dan kemauan, ini masih disebut biasa. Walaupun tidak semua bisa seperti Saudara bila seperti ini. Tapi yang menarik di ilmu yakin adalah, Saudara yang miskin, ga punya apa-apa, tapi bisa mergiin haji orang lain, bisa ngerumahin orang lain, bisa memenuhi kebutuhan hidup saudaranya saudara, atas izin Allah. Ini yang LUAR BIASA. dan tambah heboh lagi, dia yang dibantu, ga tau kalau itu semua Saudara yang mengusahakan atas izin Allah. Manteb!

Saudara yang kerja saja, belom tentu bisa loh memenuhi kebutuhan hidup Saudara. Kalo ga ngutang sana sini, suka ga normal hidup, he he he. Padahal kalo ngegedein hutang itu yang ga normal, ha ha ha. Dengan belajar ilmu yakin, Saudara bisa loh pekerjaannya ga berubah. Tetap itu. Tetap di perusahaan yang sama. Tetap dengan bos atau pimpinan yang sama. Tapi kemudian hasil akhir pendapatan Saudara yang berubah.

Menarik dah pokoknya. Insya Allah.

Di pertemuan pertama, belajarnya yang kayak-kayak gini. Seru. Sebagiannya akan jadi pengalaman baru buat Saudara, sebagaimana Yusuf Mansur pun tercengang-cengang dengan Kekuasaan dan Kebesaran Allah. Sampe sekarang. Apalagi ditambah dengan pengalaman-pengalaman para Onliners. Subhaanallah.

Mudah-mudahan dah ya kita panjang umur, dan bisa ketemu di materi pertemuan perdana nanti, belajar keyakinan, belajar ilmu yakin. Dan panjang umur terus, bisa ngikutin Kuliah Tauhid ini sampe tuntas. Aamiin.


***


Kuliah Dasar Tauhid ini saya anggap sebagai ruh dari seluruh materi Kuliah Online; baik yang berupa tulisan, audio, visual, hingga ke kuliah-kuliah wisatahati dari berbagai materi KuliahOnline.

Kuliah Dasar Tauhid ini sendiri, insya Allah terdiri dari 41 esai pembelajaran tentang tauhid termasuk Kuliah Umumnya. Perkuliahan normatif dilaksanakan saban hari Sabtu, 1x sepekan. Atau bagaimana nanti di perjalanan. Kadang ada tugas yang panjang, atau malah tidak ada tugas. Kadang saya jeda, untuk memberi kesempatan mengendapkan materi terlebih dahulu, atau tetap berjalan normal sepekan sekali. Mereka-mereka yang nantinya megang buku kuliah versi cetaknya, tetap wajib mengikuti versi online nya, dan sebaliknya. Sebab ada tugas-tugas dan interaksi dengan pengasuh perkuliahan. Selain tentu saja kopi darat, dan ketemuan-ketemuan offline dengan para member dan pengasuh, atau pembimbing pilihan.

Kuliah Tauhid ini masih ditambah dengan esai-esai tambahan berupa Kuliah Dhuha (DhuhaaCoffee) dan Kuliah Studi Kasus: 30 Kasus Pertama di urusan Tauhid, Iman, Keyakinan, Sedekah, dan Amal Saleh Lainnya. Dua Kuliah ini bisa langsung diikuti tanpa perlu menunggu perkuliahan tauhid selesai. Tentunya dengan jadwal kuliahonline yang sudah ditetapkan. 2 perkuliahan ini digelar untuk mengimbangi kuliah tauhid yang kadang panjang sekali jeda nya. Perkuliahan dhuha dan 30 tauhid diselenggarakan secara reguler, 1x setiap pekannya. Sehingga jika Saudara mengikuti secara sempurna Kuliah Tauhid ini, maka Saudara akan mengikuti perkuliahan sedikitnya 3x seminggu. Semoga Saudara bisa meluangkan waktu untuk mengikutinya.

Kuliah Tauhid adalah Kuliah Wajib yang mesti diikuti buat semua peserta yang mau mengambil KuliahOnline ini. Ibaratnya, ia adalah gerbang buat materi-materi lainnya.

Sambil mengikuti Kuliah Tauhid, Saudara sebenarnya bisa juga mengikuti materi-materi kuliah lain. Baik yang ada di kelompok Kuliah Pilihan, dan kelompok Kuliah Solusi Terapan Sedekah.

Saran saya, ikutilah Kuliah Tauhid ini dulu dengan sempurna. Ikutin esai satu ke esai lainnya. Jangan hanya dikoleksi. Buku-buku penunjang dan CD/DVD nya, dilihat, didengar, dan dipelajari juga. Kalaupun Saudara mau mengikuti perkuliahan lainnya, bener-bener jangan bercanda. Saya paling ga demen, jika Saudara hanya mengoleksi saja, tapi ga mengikuti perkuliahan secara serius.

Mudah-mudahan dengan kekuatan getaran hati menuju Allah, perkuliahan tauhid ini bisa menemani hari-hari Saudara.

Saudara yang butuh pencerahan dan pertolongan, yang karenanya Saudara memilih Kuliah Solusi Terapan, ga usah khawatir. Bersabarlah mengikuti Kuliah Tauhid ini. Niscaya ia bisa juga menjadi jawaban buat Saudara, bahkan sebelum Saudara mengikuti Kuliah Solusi Terapan Sedekah.

Maafkan segala kesalahan saya dan kawan-kawan pengelola perkuliahan online ini ya, apabila ditemukan banyak kejanggalan. Terima kasih atas kepercayaan Saudara semua kepada kami. Kritik dan saran teramat sangat saya tunggu.Jazaakawlooh khoir.

Dalam pada itu, saya mengingatkan yang memulai belajar Kuliah Tauhid ini, untuk sama-sama memulai memperbaiki ibadah kita sebagai awal implementasi Kuliah Tauhid ini. Yang belum shalat, shalatlah. Yang sudah shalat, tapi masih sendiri, berjamaahlah (kecuali perempuan). Yang masih shalat di rumah, berusahalah untuk shalat di masjid. Yang sudah shalat wajib, sempurnakanlah dengan qabliyah ba’diyah. Insya Allah saya akan menemani hari-hari Saudara semua dengan perkuliahan yang kita berdoa mudah-mudahan diridhai Allah. Amin.

Benahi keyakinan kita kepada Allah. Benahi baik sangka kita kepada Allah. Benahi kelakuan kita, dan ibadah kita di hadapan Allah. Jangan sampai kita jadi orang yang ga yakin sama Allah, ga yakin Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Membalas, dan jangan sampai ga percaya sama Kekuasaan-Nya.

***

Saya mengungkapkan perasaan saya: Menyenangkan sekali bisa ketemu dengan Saudara-saudara semua, meski secara maya. Secara Online.

Saya berdoa semoga segala fadhilah ilmu dan fadhilah majelis ilmu, tetap diberikan oleh Allah kepada kita, sebagaimana kalau kita duduk bertatap muka satu atap di satu majelis ilmu. Rasulullah bersabda, bahwasanya sesiapa yang duduk di dalam majelis ilmu, maka Allah akan mencatatkannya sebagai orang yang ikut berjihad di medan perang membela agamanya Allah. Dan sesiapa yang duduk di majelis ilmu, maka Allah juga akan memerintahkan malaikat-Nya turun. Malaikat ini akan mengepakkan sayapnya dan bercucuran rahmat kepada siapa yang ternaungi. Malaikat ini juga akan membanggakan mereka semua di hadapan Allah, seraya memohonkan ampun kepada Allah. Majelis ilmu adalah juga bahagian dari Majelis Zikir, majelisnya orang-orang yang belajar untuk mengenal dan mengingat Allah. Insya Allah segala fadhilahnya kelak kita akan pelajari lebih lanjut lagi. Saya hanya kepengen Saudara-saudara semua ikut mengamini doa saya, agar KuliahOnline ini menjadi Majelis Ilmu juga buat kita. Dan sejatinya, KuliahOnline ini adalah pengajian. Pengajian secara maya. Baarakallaahu lanaa, keberkahan semoga Allah berikan kepada kita, dan kepada siapa yang terlibat di dalam KuliahOnline ini.


***


Saya juga berdoa kepada Allah, agar waktu dan biaya yang Saudara-saudara keluarkan; biaya registrasinya, biaya pemakaian listrik dan internetnya, biaya investasi perangkat kerasnya, dan biaya-biaya lainnya, dijadikan sebagai sedekah sebagaimana patutnya Allah menganggap sedekah bagi siapa yang mengeluarkan biaya dalam menuntut ilmu dan haji umrah. Dia-lah Yang Maha Syakuur, Maha Membalas, Maha Menghargai. Di mana kita sama tahu, bahwa setiap sedekah akan mendapatkan balasan yang luar biasanya dari Allah subhaanahu wata’ala.

Dalam pada itu, saya menggarisbawahi kepada semua peserta KuliahOnline. Sesiapa yang mendapatkan ilmu, pengalaman, pencerahan, spirit, motivasi dari sesi-sesi KuliahOnline ini, mudah-mudahan berkenan membagi lagi kepada yang lain. Agar bertambah-tambah pahala kebaikan kita bersama.



***


Dengan memuji kepada Allah, saya beristighfar kepada Allah. Beragam nikmat, Allah berikan, sementara saya rasa ibadah tiada bertambah. Bahkan barangkali kalaulah tidak ada Kasih Sayang-Nya, tidak ada Rahman dan Rahim-Nya, niscaya tidak akan pernah berimbang antara dosa dengan kebaikan. Selalu akan lebih banyak dosa ketimbang kebaikan. Kesibukan dunia yang pada akhirnya seringkali menyebabkan manusia menjadi jatuh ke dalam kesusahan, tidak menjadi pelajaran buat yang lain. Atau bahkan sering tidak menjadi pelajaran bagi dirinya sendiri. Bukan kesibukannya itu sebenarnya yang menjadi masalah, melainkan karena kesibukan itu sudah melalaikannya dari mengingat Allah. Andai kesibukan mencari dunia tidak melalaikan diri kita dari Allah, maka niscaya hidup ini akan seimbang dunia dan akhirat. Mencari dunia adalah perintah Allah juga. Dan setiap perintah Allah yang dikerjakan, maka ia menjadi ibadah. Allah hanya meminta kita, jangan sampai kita lalai dari mengingat-Nya. Untuk itulah saya ingatkan diri ini dan diri yang bisa diingatkan dengan pembelajaran tauhid yang saya tulis. Agar kita bisa mementingkan Allah dari siapapun dan dari apapun.

Dan Kuliah tauhid ini saya sampaikan juga sebagai pengingat bagi diri saya dan bagi mereka yang mau mengingat akan kelalaiannya beribadah sebagai tujuan diciptakannya manusia; Untuk beribadah kepada Allah.

Kuliah Tauhid saya rangkai seraya memohon izin dan ridha-Nya.

Saudara-saudaraku peserta KuliahOnline… Di antara biang keladi iman sering runtuh, sebab tidak sedikit manusia yang takut bahwa ia akan tidak memiliki rizki… Tidak bisa menyelesaikan masalah… Tidak bisa memenuhi keinginan-keinginan dunianya… Tidak akan bisa senang hidup di dunia jika rajin beribadah dan taat kepada Allah… Sedang Allah Maha Segala, Maha Kuasa, Maha Besar. Dunia mengalahkan dirinya dari Allah. Atau malah karena tidak mengenali apa itu hakikat kebahagiaan, hakikat kesenangan, dan atau lebih jauhnya hakikat hidup itu sendiri, yang kemudian menyebabkan iman menjadi tidak muncul cahyanya di kehidupannya. Atau, malah tidak mengenal Allah? Untuk itulah perlu kiranya belajar tentang tauhid.

Penyebab lain iman sering runtuh, adalah ketiadaan ilmu. Sedang ilmu segala ilmu adalah ilmu tauhid.

Belajar tentang tauhid adalah belajar tentang Allah, dan itu juga berarti belajar untuk kehidupan dan kematian. Kita hidup berasal dari Allah, dan pun kita akan mati untuk kembali kepada Allah Yang Maha Hidup.

Pengetahuan bahwa manusia yang hidup akan mati, dan yang mati akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya, juga mendorong saya menulis esai demi esai Kuliah Tauhid ini. Alangkah mengerikannya jika kemudian kita betul-betul dilalaikan oleh dunia, dan lebih mengerikan lagi jika kemudian hidup kita sendiri menjadi jauh dari Allah, dekat dengan perilaku-perilaku syetan, lalu mati. Entahlah, tidak terbayang betapa sia-sianya hidup seperti ini.

Semula Kuliah Tauhid ini digunakan sebagai perenungan bagi diri sendiri, dan kemudian dibawa kepada sesiapa yang berkenan diajak untuk sama-sama belajar tentang Allah dan kehidupan ini. Rasanya saya seperti sedang berdiri sebagai orang yang tauhidnya sudah benar saja ya? Padahal masih jauh. Saya niatkan sama-sama belajar dengan Saudara-saudara semua. Hati ini gelisah dengan kurangnya ibadah, mudahnya maksiat, bahkan maksiat di tengah ibadah; Ketika berdakwah, ketika menulis, ketika shalat, ketika zikir, ketika baca al Qur’an. Saya mengerti, jawaban semuanya adalah tauhid, untuk menghidupkan iman dan membuahkan amal yang terang benderang. Semakin manusia bertauhid, semakin ia aman dan nyaman. Pun semakin ia bahagia dan tenang. Sebab ia semakin mengenal dan semakin dekat dengan Allah.

Belum lagi persoalan-persoalan kehidupan manusia dan hajatnya yang banyak yang tiada ada pernah habisnya. Dua hal ini; persoalan hidup dan hajat hidup, manusia sebenarnya membutuhkan Allah Yang Maha Tahu tentang dua hal ini. Namun ilmu tauhid sudah sedikit sekali dipelajari orang lantaran beratnya. Akhirnya manusia tidak mengenal Allah, Tuhannya.

Perlu saya ketahui dan perlu lebih lagi diketahui oleh Saudara-saudara semua. Di tangan Allah; menaikkan gaji orang-orang yang tiada cukup gajinya, melunasi hutangnya, menghadiahkan pekerjaan dan permodalan usaha, menyembuhkan penyakit seseorang, dan menyelesaikan semua problem kehidupan manusia, adalah jauh-jauh lebih ringan daripada DIA memberi rizki kepada semua makhluk di bumi. Allah sediakan jalan shalat dhuha, sedekah, tahajjud misalnya, sudah akan membuat manusia enteng dengan persoalan hidup dan hajatnya.

Tapi itulah, bagaimana mau mengenal Allah, kalau kemudian tiada mengenal seruan-Nya, petunjuk-Nya, bimbingan-Nya? Dan karena tidak mengenal jalan-jalan ini, manusia lalu menempuh jalan-jalannya sendiri yang lama dan berat. Lalu mereka mengatakan, “Inilah hidup”. “Perjuangan”, begitu katanya. Orang-orang ini tidak tahu bahwa Allah memberi keringanan, sebab DIA Yang Maha Tahu tentang bagaimana alam ciptaannya bekerja. Tapi sayang, manusia memilih jalan yang berat. Mengapa? Sekali lagi saya insyafkan diri saya, ini sebab tiada ada ilmu tauhid.

Ketika manusia dihadapkan pada sejuta persoalan hidup yang lain, ia berputus asa dari rahmat Allah. Seakan pertolongan Allah itu jauuuuuuh, tidak mungkin ia gapai.

Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mah ia jauh dari Allah, lalu memberi persangkaan buruk kepada Allah? Itu juga terjadi karena ia tidak mengenal Allah. Kasih Sayang Allah begitu besar. Jauh lebih besar melampaui dosa siapapun dan jauh lebih besar dari dosa siapapun. Pertolongan-Nya pun demikian mudah didapat. Allah hanya meminta hanya ada DIA di hati kita, di pikiran kita, di kehidupan kita. Jangan ada yang lain. Lalu ruku’, sujud, dan berdoa pada-Nya, seraya memperbaiki diri dari sisi iman, ibadah, dan amal saleh, niscaya kehidupan akan terang benderang.

Sekali lagi, pertolongan Allah sungguh sebenarnya mudah didapat. Lebih sulit mendapatkan pertolongan manusia. Ke Allah, teramat dekat. Ke manusia, kita perlu dulu berjalan, menghampiri, ketemunya juga susah, dan sekalinya ketemu belum tentu dapatnya. Lebih sering kita malah menjadi hina, menjadi rendah, dan kemudian malah aib dan kelemahan terbuka.


***


Saudara-saudaraku, saya mengingat secuplik episode ketika saya bermasalah.

Satu saat saya menangis di hadapan seorang ‘alim. Lalu dia memegang dada saya. Dia bertanya, “Apa sesungguhnya yang Kamu butuhkan?”

Saya terdiam.

Sentuhan tangannya di dada saya, adalah kelembutan yang menghunjam hingga di lubuk hati saya yang paling dalam. Ada kesejukan yang mengalir.

Orang lain ini melanjutkan, “Yang Kamu butuhkan hanya Allah. Iman. Tauhid. Bukan duit. Bukan solusi. Bukan yang lainnya. Hanya Allah. Hanya Allah yang Kamu butuhkan.”

Saat itu saya menangis. Ingin rasanya segera saya berlari ke tempat wudhu, dan secepatnya menggelar sajadah dan menangis. Dan saya lakukan itu.

Tauhid!

Itulah jawaban buat saya.

Tauhid, meng-Esakan Allah, menjadikan Allah segalanya, itulah jawaban buat saya dan buat semua orang yang berdada sesak. Dan itulah juga jawaban buat orang yang belum sesak dadanya supaya menjadi modal ketika kesesakan bersemayam di dadanya. Sedangkan ketika manusia dihadapkan pada persoalan hidup dan urusan hajatnya, belom tentu Allah yang ia kenal.

Di situ saya belajar ulang tentang tauhid. Iya juga ya? Belom tentu kalau saya punya duit, lalu masalah jadi selesai? Masa harus selesai pakai duit saja? Bagaimana kalau ga punya-punya duit? Ga selesai-selesai dong masalah saya? Wuh… Pokoknya saya saat itu “gembira” punya kesadaran dan ilmu pengetahuan bahwa yang saya butuhkan adalah Allah. Nanti caranya selesai terserah Allah.

Kita akan pelajari insya Allah di Kuliah Tauhid ini hal-hal yang beginian.


***


Di kali pertama kita memulai belajar sesuatu yang BERAT ini, kita bershalawat lagi kepada Rasulullah shollaa ‘alaih. Allah menjanjikan sesiapa yang bershalawat satu kali padanya, maka Allah bershalawat 10x kepadanya. Dan tiadalah cinta kepada Allah dihitung cinta, hingga kita mencintai Rasulullah. Ta’at kepada Allah tiada dihitung ta’at apabila kita tiada ta’at kepada Rasulullah.

Mari kita hadiahkan shalawat dan salam, sebagai doa, kepada orang yang paling kita rindukan, Nabiyallah Muhammad shalla ‘alaih, agar diri kita dan segenap orang-orang yang ada di hati kita, juga para jamaah yang lain yang belum mengetahui adanya KuliahOnline ini, ada di barisannya Nabi ketika semua manusia dikumpulkan di Padang Makhsyar. Dan agar kita semua duduk satu surga dan bisa mencium wanginya; Man ahyaa sunnatii faqod ahabbanii, wa man ahabbanii kaana ma’ii filjannah, siapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh dia telah mencintai diriku. Dan barangsiapa yang mencintai diriku, maka dia akan bersamaku di surga.

Sungguh, Rasulullah yang setiap hari saya paksakan bershalawat kepadanya minimal 100 kali sehari semalam, betul-betul memotivasi diri saya, agar diri ini masuk kepada golongan orang-orang yang mencintai sunnahnya, terbiasa hidup dengan sunnah-sunnah Rasulullah, dan menjadi orang yang sayang apabila begitu gampang meninggalkan sunnahnya. Itu tiada lain, agar Allah -- yang t’lah berkata bahwa tiadalah lengkap kalimat tauhid, kalimat “Laa-ilaaha illallaah”, tanpa “Muhammadar rasuulullaah”, tanpa kesaksian bahwa Muhammad itu adalah Rasul-Nya – memasukkan diri ini ke dalam golongan orang-orang yang mencintai-Nya. Qul, katakanlah, in kuntum tuhibbuunallaah fattabi’uunii yuhbibkumullaah, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasuulullaah), niscaya kalian akan dicintai Allah.

Mengenal Allah, mengenal Rasulullah. Mencintai Allah, dan mencintai Rasulullah. Mengikuti Allah, dan mengikuti Rasulullah. Ta’at kepada Allah, dan ta’at kepada Rasulullah, itulah yang mau saya tuju ketika saya tulis materi demi materi perkuliahan ini. Inilah tauhid. dan inilah ruh semua ruh seluruh KuliahOnline kita. Apapun modul yang dipilih oleh masing-masing peserta. Besar harapan saya, agar kalimat tauhid betul-betul dicatat Allah pernah kita ucapkan;Man qoola laa-ilaah illallaah, dakholal jannah, siapa yang mengucapkan Laa-ilaaha illallaah, maka dia dijamin masuk surga. Dan besar pula harapan ini, agar kita-kita semua ini beserta keluarga kita, bisa benar-benar bersungguh-sungguh mengenal diri-Nya, mengenal rasul-Nya, dan kemudian berkenan menjadi hamba-Nya, menjadi penyembah-Nya.

Tiada yang saya takutkan kecuali diri ini mati dalam keadaan tidak bisa mengatakan Laa-ilaaha illallaah wa-asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Dan mestinya ini jugalah yang Saudara-saudara semua takutkan. Bukan hutang yang belum terbayar, bukan piutang yang belum tertagih, bukan penyakit yang belum sembuh, bukan pekerjaan dan modal usaha yang belum kita dapatkan, bukan rumah yang belum bisa kita beli, bukan dunia yang selama ini menjadi sumber petaka dan masalah kita. Bukan. Melainkan betul-betul yang kita takutkan adalah kalau kita meninggal dunia dalam keadaan kita tidak bisa mengucapkan kalimat tauhid.

Maka mari kita belajar sepenuh hati, dan saling mengingatkan.


***


Tentu saja tidak ada yang bisa mengajarkan sebaik Allah yang mengajarkan. Dan tidak ada satu pun ilmu yang kita dapat kecuali Allah yang mengizinkannya menjadi ilmu buat kita. Saya berharap, kuliah tauhid ini bisa menyelamatkan diri kita semua dari kehancuran yang lebih besar, dengan kita mengenal-Nya, dan segera memulai saja perjalanan tauhid dari mengenal-Nya.

Apa yang saya maksud dengan kehancuran yang lebih besar? Yaitu ketika kematian datang, kita tidak siap. Belum diampuni Allah, belum dapat ridha-Nya, belum dapat maaf-Nya. Buat apa kaya dunia, jika kemudian neraka terhidang untuk kita, abadan abadaa. Selama-lamanya.

Semoga cara saya memperkenalkan Allah kepada diri saya, bisa menjadi satu pembelajaran tauhid yang diridhai Allah subhaanahuu wata’ala. Tidak ada yang aneh dari pembelajaran tauhid yang akan saya sampaikan. Semuanya insya Allah perjalanan hidup yang begitu saja. Kanan kiri Anda yang mengikuti pembelajaran ini, banyak yang lebih ‘alim, lebih banyak makan asam garam, lebih soleh, maka mintalah juga nasihat dari mereka. Boleh jadi apa yang saya sampaikan adalah sebuah kesalahan. Namun apa yang saya tempuh, dari sedikit cara yang saya ketahui ini, sudahlah cukup membuat saya bangga, bahwa Allah Memang Tuhan saya. Dia begitu baik, dan sangat-sangat baik. Saya mengenal banyak orang kaya, dan berkuasa. Tapi siapa yang saya bisa mintakan kekayaan dan pembagian kekuasaan? Hanya DIA yang berkenan diminta, tanpa batas, dan diberi! Saya nukilkan sedikit pengalaman-pengalaman mereka yang berkenalan dengan Allah, lalu saya membagi-baginya menjadi satu dua kisah hikmah. Biarlah Allah yang mengetahui rahasia kebenaran-Nya. Sebab kepada-Nya juga berpulang semua kebenaran.

Kemuliaan mudah-mudahan Allah hadiahkan juga buat mereka-mereka yang kita kasihi; orang tua kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, para orang yang sudah mendoakan dan menjadi bahagian dari amal saleh, dan buat orang-orang yang mulai mengikuti perkuliahan tauhid ini. Agar Allah angkat derajat kita semua, menyingkirkan semua duka, penderitaan, memberi jawaban semua persoalan hidup. Dan yang lebih penting lagi, sesuai tujuan perkuliahan ini, agar di diri kita semua, tumbuh tauhid, iman, dan mewafatkan kita semua dalam kebaikan untuk segera bisa menemui Allah dalam keadaan yang diridha-Nya.


***


Setelah ini, saya dan Anda semua akan sama-sama belajar tentang maa huwattauhiid? Apa itu tauhid? Saya katakan sama-sama belajar, sebab sebagaimana saya katakan di atas, memang saya pun masih terus belajar, dan akan terus belajar. Pembahasan tentang apa itu tauhid tetap diajarkan melalui pembahasan kehidupan.

Kelak kita akan undang para ahli, para ‘alim ‘ulama di bidang ini, untuk duduk bersama dan mengajarkan kepada kita semua tentang ilmu tauhid.

Selamat mengikuti perkuliahan, mudah-mudahan Allah membimbing kita semua. Amin.


***


Yaa Allah, izinkan kami mengenal-Mu, dan perkenalkan diri-Mu kepada kami. Duhai Allah yang tiada bisa saya mengajarkan sesuatu, kecuali Engkau yang mengizinkan dan mengajarkan. Ajarkan kami ilmu-ilmu yang bisa membuat kami menjadi selamat dunia dan akhirat. Kenalkan kami kepada keagungan-Mu, agar tiada sombong kami hidup di dunia ini. Kenalkan kami kepada Kasih Sayang-Mu, agar kami tahu bahwa kami hidup tidak sendiri. Apapun kesusahan kami, kesulitan kami, kami tahu bahwa Engkau Maha Mendengar, Engkau Maha Menolong, Engkau Maha Kuasa, sehingga tiadalah kesulitan itu menjadi bahagian dari kehidupan orang-orang yang mengenal-Mu.

Rabb, kenalkan kami kepada diri-Mu yang Maha Membebaskan manusia dari permasalahannya. Sehingga enteng hidup mereka yang mengenal-Mu. Kenalkan kami kepada Engkau Yang Maha Menjawab Semua Doa. Kenalkan kami kepada Zat yang tidak sanggup melihat kami menderita dan menanggung dosa.

Kenalkan kami ya Allah. Kenalkan kami pada diri-Mu. Engkau yang berkata dalam kalam-Mu; kuntu kanzan makhfiyyan, sungguh dulu Aku adalah permata yang tersembunyi. Fa-uriidu an u’rofa, maka Aku ingin dikenal. Fa-kholaqtu kholqon liya’rifanii, kuciptakan makhluk untuk mengetahui Aku. Maka, yaa Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bisa membawa kami kepada diri-Mu, dan menambah kecintaan kami kepada Rasul-Mu. Ilmu yang bisa menyelamatkan kehidupan kami, yang bila tidak diberikan ilmu itu maka kami tidak mengenal-Mu.

Ya Allah, dengan penuh kerendahhatian dan penuh harap akan keselamatan yang abadi. Kenalkan kepada kami diri-Mu Yang Maha Melihat, Maha Mengawasi. Agar kami tahu bahwa setiap detik kehidupan kami senantiasa diperhatikan oleh-Mu. Wahai Zat Yang Teramat Teliti dalam mencatat, dengan Kemurahan Ampunan dan Maaf-Mu, izinkan kami bershalawat dulu kepada Rasul-Mu, memuji dengan pujian yang Engkau sandangkan pada diri-Mu, serta didahului dengan beristighfar yang sungguh-sungguh dari dalam hati kami, setelahnya kami memohon agar Engkau hapuskan seluruh catatan keburukan kami dan menggantinya dengan catatan ampunan, maaf dan ridha-Mu. Allaahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyyidinaa Muhammadin wa’ alaa aalihi washohbihi ajma’iin walhamdulillaahi robbil’aalamiin. Nastaghfirullaahal ‘adzhiem wa atuu-bu ilaih. Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, hari ini, saat ini, kami semua memohon ampun dari-Mu, dari kesalahan tidak mengenal-Mu, dari kesalahan melalaikan diri-Mu, juga dari kesalahan tidak mengikuti ajaran-Mu dan ajaran Rasul-Mu. Ampuni kami dari seluruh ragam keburukan dan kemaksiatan yang sepenuhnya Engkau genggam seluruh catatannya. Kami ingin kembali pada-Mu dalam keadaaan diri yang sudah terampuni.



Sebait doa untuk peserta KuliahOnline

Saya berdoa kepada Allah, agar waktu dan biaya yang Saudara-saudara keluarkan; biaya registrasinya, biaya pemakaian listrik dan internetnya, biaya investasi perangkat kerasnya, dan biaya-biaya lainnya, dijadikan sebagai sedekah sebagaimana patutnya Allah menganggap sedekah bagi siapa yang mengeluarkan biaya dalam menuntut ilmu dan biaya berangkat haji umrah. Dia-lah Yang Maha Membalas, Maha Menghargai. Di mana kita sama tahu, bahwa setiap sedekah akan mendapatkan balasan yang luar biasa dari Allah subhaanahu wata’aala. Dan kita pun sama mengetahui, insya Allah, tidak ada satupun perbuatan kita yang tidak dihargai dan dinilai Allah. Semoga semua menjadi amal saleh dan ibadah yang diridhai Allah.


***************

Silahkan Share Kuliah Online Ini…

Dengan cara yang cerdas, sedikit-sedikit, dan dirawat.

Saya menyeru kepada semua peserta KuliahOnline. Sesiapa yang mendapatkan ilmu, pengalaman, pencerahan, spirit, motivasi dari sesi-sesi KuliahOnline ini, mudah-mudahan berkenan membagi lagi kepada yang lain. Agar bertambah-tambah pahala kebaikan kita bersama.

Saudara mendapati materi demi materi berhalaman banyak. Jangan langsung dishare semuanya. Sedikit-sedikit. Jangan sekali banyak, apalagi langsung sekian judul. Nanti malah ga dibaca. Pelan-pelan. Sambil memastikan yang dikasih materi, yang dibagi ilmu, mengikuti juga. Saya sendiri melarang berat Saudara sekedar mengoleksi perkuliahan ini sebagai koleksi belaka. Sayang. Dipelajari betul. Maka ketika saya meminta Saudara memasyarakatkan isinya, membagi isinya, membagi ilmunya, tetap kondisikan sharing yang sifatnya personal. Man to man. Perseorangan atau kelompok. Misalnya Saudara membuka forum diskusi untuk kawan-kawan kantor, bahannya adalah bahan ajar di KuliahOnline ini atau bahan-bahan dari OfflineClass. Lalu Saudara share ke mereka, agar dibaca dulu. Syukur-syukur Saudara ajak mereka daftar secara resmi.

Adapun registrasi dan biaya yang muncul akibat KuliahOnline ini, mudah-mudahan sebagaimana doa saya, ada keridhaan dari Saudara-saudara semua sebagai sarana buat saya dan yang terlibat di KuliahOnline ini mencari rizki yang halal dan sebagai dana untuk operasional penyelenggaraan dan pengembangan KuliahOnline ini. Tapi sesiapa yang tiada punya kemampuan untuk melakukan registrasi, atau ada hambatan-hambatan teknologi, fisik dan keilmuan, maka kepada merekalah kita berbagi ilmu yang sudah didapat ini dengan memperhatikan apa yang saya sarankan di atas. Sungguh, insya Allah kita sama-sama berjuang agar keridhaan Allah betul-betul kita dapatkan. Saudara ridha terhadap kami, dan kami ridha terhadap Saudara.
Amal Tabungan Tabungan Amal
Kuliah Online Ustadz Yusuf Mansyur Sesi - 4

Bagi yang cepat dikabulkan doa-doanya, barangkali sebab ia sudah punya duluan amal tabungannya, hingga kemudian Allah menganggapnya cukup amal untuk hajat yang diinginkannya.

Bagi yang kemudian telat sekali datangnya rahmat sedang dia sudah mulai masuk ke gerbang amal saleh, barangkali sebab begitu banyak dosa-dosanya, namun dia belom melakukan pertaubatan sepenuh-penuhnya.

***

Para Peserta KuliahOnline yang berbahagia. Sesuai dengan janji dari ujung esai yang sebelumnya, bahwa kita akan membahas sedikit dari lanjutan kisahnya Ibu Yuyun. Yang lupa bagaimana kisahnya, lihat lagi ya kisah Bu Yuyun tersebut. Bahwa ia dalam satu malam bisa mendapatkan solusi dari Allah bagi putranya yang mau masuk ke perguruan tinggi.

Buat saya, menarik sekali membahas kisah tersebut. Kalau cerita itu saya penggal hanya di hari itu, maka kesannya memang adalah doanya Bu Yuyun DIKABUL ALLAH DALAM SEHARI SEMALAM.

Ya, sorenya Bu Yuyun menerima khabar bahwa anaknya lulus. Lalu malamnya bangun malam bersama anaknya. Kemudian besoknya Allah menurunkan pertolongan lewat seorang paman yang menanggung biaya anaknya Bu Yuyun yang tidak lain adalah ponakannya.

Terlihat sangat Kun Fayakuun ya?

Satu malam jadi. Satu malam selesai.

Jawabannya, bisa ya bisa tidak.

Bisa ya, sebab kita lagi belajar nih bahwa Allah itu Begitu Kuasa. Jangankan hitungan jeda satu malam. Tanpa ada jeda pun Allah bisa. Namun bukan belajar namanya kalau kita tidak mengupas lebih jauh lagi.

Coba lihat detail cerita sebelumnya:

Bu Yuyun, sebut saja begitu, punya anak semata wayang yang ia besarkan tanpa suami. Sejak putranya ini masuk SMA kelas 1, suaminya meninggal. Dari hari ke hari ia kuatkan batinnya bahwa ia tidak sendirian dalam membesarkan anaknya. Ia bersama Allah. Allah selalu menemaninya. Ini yang ia yakini. Saban shalat ia berdoa agar diberi kemampuan membesarkan anaknya dan memiliki rizki yang cukup.

Lihat, nampak Bu Yuyun datang ke Allah, jauh-jauh hari sebelum anaknya dinyatakan lulus. Bukan baru malam itu saja ia datang ke Allah. Sekali lagi, dari jauh-jauh hari.

Kita buka lagi lembaran esai kuliah sebelumnya yang belajar dari kisah Bu Yuyun. Saya kembali menukilkan sedikit:

Bu Yuyun berdebar-debar. Ia tahu, kalau anaknya lulus, ini masalah buat dirinya. Kalau anaknya tidak lulus, pun masalah buat dirinya juga. Tentu saja ia senang dapat masalah dalam bentuk anaknya lulus. Masalahnya tentu saja apalagi kalau bukan uang kuliah anaknya. Tapi segera ia banting sesuai dengan pengalamannya selama ini. Ada Allah Yang Maha Memberi Rizki. Dan ini yang membuatnya tenang.

Ia tahu bahwa Allah Maha Tahu. Kondisi ini sudah ia sampaikan ke Allah jauh-jauh hari, bahwa ia butuh biaya buat anaknya lulus. Dia yakin, Allah pasti akan memenuhi kebutuhan anaknya, dan atau memberikan yang terbaik. Ia malah bersemangat sekali untuk menambah kedekatan dirinya dengan Allah.

Dan ini yang kita perlu belajar. Bu Yuyun mendatangi Allah sejak pagi-pagi ia mendapatkan masalah. Bahkan, sebenernya, jauh sebelum ia menghadapi persoalan biaya masuk anaknya ke perguruan tinggi ini, ia sudah berangkat menuju Allah. Ya, ia berdoa dan menitipkan kejadian-kejadian rizki di masa yang akan datang, sedari awal.

Bu Yuyun juga punya tabungan yang banyak sekali. Sementara insya Allah kalau melihat kepribadian dari story singkatnya, ia kelihatannya ibu yang salehah, yang sedikit dosanya.

***

Beda Bu Yuyun, beda pula dengan kita. Kebanyakan kita, mendatangi Allah, setelah kita mendapatkan masalah. Atau ketika kita ada keperluan. Meskipun mendatangi Allah, atau mendekatkan diri kepada Allah lewat pintu ini – pintu masalah dan hajat – adalah diperbolehkan (bahkan dianjurkan), namun sering membuat tauhid orang suka rusak jika ia suka buruk sangka, tidak sabar dan tiada ilmu. Andai Allah tidak segera mengabulkan, maka ia akan cenderung putus asa. Cenderung marah-marah, dan bahkan tidak sedikit menyalahkan orang yang menasihatinya.

Saya sering juga “disesali” orang. Ketika saya suruh seseorang bersedekah, lalu ia bersedekah di pertemuan pertama, dan ia tidak mendapati pertolongan Allah segera datang kepadanya, saat itulah tidak sedikit saya kemudian “disesali” oleh orang tersebut. Bahkan tidak jarang saya “diadili” dan “dipergunjingkan”. Padahal andai ia terusin ngajinya, ia lengkapi lagi pengetahuannya, dan ia sabarkan dirinya, insya Allah sedekahnya akan bekerja, ibadahnya akan bekerja.

Dengan belajar esai-esai Kuliah Tauhid, saya kepengen kita semua bergerak menuju Allah. Tidak ada yang pernah terlambat mendatangi Allah, hingga ia meninggal dunia. Sedang, meskipun sudah meninggal dunia, Allah masih berbaik-baik sama kita, dengan terus menyuburkan amal kebaikan kita ketika di dunia hingga saatnya nanti kita dihadapkan dengan Hari Hisab.

***

Sebagai penyerta KuliahOnline, sedari awal saya sertakan juga Program Riyadhah 40 Hari (lihat tugas). Semacam pesantren personal bagi setiap individu yang bertujuan menjaga rutinitas/keistiqamahan ibadah selama 40 hari.

Nah, bagi yang ikut serta Program Riyadhah 40 Hari, saya betul-betul meminta jamaah yang ingin ikut, membuka diri akan Kebesaran Allah, dan masuk ke program riyadhah dalam kepercayaan penuh dan masuknya juga dengan kekuatan penuh. Namun, sebelum itu, saya meminta kawan-kawan shalat taubat dulu seraya memohon ampun atas segala kesalahan yang barangkali belum sempat dimintakan ampunannya kepada Allah.

Sungguhpun demikian, tidak sedikit juga yang kemudian tidak menampakkan hasilnya, walaupun ia sudah menyelesaikan riyadhah di hari ke-40 nya. Dan sebaliknya, banyak juga yang kemudian mendapatkan berkah padahal ia belum menyelesaikan riyadhahnya. Mengapa? Banyak jawabannya. Dan insya Allah di lembaran-lembaran setelah lembaran ini, satu demi satu akan terkuak dengan izin-Nya.

Satu jawaban yang saya ingin katakan kepada Saudara semua di sini adalah: Kita ini udah kelewat lama ibadahnya ga bener. Kalo ga dibenerin sedari kita ini ada umur, sehat, sampe kapan lagi mau menunda? Iya kalo ada umur, dan sehat. Kalo engga ada, gimana? Diakui atau tidak, ampun dah. Kita-kita ini emang payah dan berantakan ibadahnya. Dengan masuk ke gerbang riyadhah 40 Hari, kita seperti menata ulang hidup kita. Hidup yang penuh ibadah. Kita stel ibadah-ibadah kita dari bangun tidur, sampe tidur lagi dan sampe tidurnya itu sendiri. Diset-up ulang.

Dan bukankah seharusnya memang seperti ini hidup kita? 40 hari menjadi hari-hari yang diharapkan ibadah Saudara menjadi karakter. Yakni menjadi perilaku. Menjadi kebiasaan yang dibiasakan oleh Saudara. Tadinya biasa ga shalat, jadi biasa lagi shalat. Tadinya biasa ga ke masjid, jadi biasa ke masjid. Tadinya biasa ga berjamaah, jadi biasa lagi berjamaah. Tadinya ga biasa baca al Qur’an secara rutin, ini kemudian berusaha mengkhatamkan. Baik bacaan, maupun terjemahannya. Ada yang biasa tidak dhuha, dan shalat malam. Sekarang jadi ga enak kalo ga dhuha dan tahajjud, sebagai udah dibiasakan selama 40 hari.

Memang asalnya mungkin ada yang berawal dari berharap pertolongan Allah datang. Yah, ga apa-apa. Mudah-mudahan Allah mengistiqomahkan setelahnya.

Oh ya, barangkali masih ada yang ga paham apa itu riyadhah ya? Itulah mengapa saya meminta Saudara mengkaji CD-CD atau DVD-DVD yang menjadi bahan ajar penunjang. Jika sudah mempelajari, tentu sudah paham dah apa itu maksudnya riyadhah. Riyadhah itu exercises. Latihan-latihan. Latihan apa? Latihan ibadah. Ditulis, dicatet, dan dilihat detail eksekusi ibadahnya satu demi satu, hari demi hari, sampe hari ke-40. Dimulai dari tahajjudnya jam berapa? Berapa rakaat? Witirnya ada apa engga? Istighfar di waktu sahurnya? Baca Qur’an di penghujung malamnya? Shubuhannya di masjid apa engga? Dan amalan-amalan yang diperlukan cek-lis nya secara jujur. Mirip seperti anak SD yang membawa buku Ramadhan yang harus ditandatangani oleh ustadz-ustadznya. Nah, harusnya, Saudara sudah kelar nih mempelajari DVD Riyadah 1 dan 2. Dan juga sudah melalap CD-CD dan DVD-DVD yang dianjurkan. Bergeraklah menuju Allah. Dekatkan diri kepada Allah.

Sekali lagi, satu hal yang saya mau jadikan pembelajaran buat diri saya pribadi, adalah apa yang saya katakan di bait-bait paragraf di atas. Bahwa saya pribadipun tatkala mendekatkan diri kepada Allah, saya sadar, saya pun lama sekali meninggalkan Allah atau lama sekali tidak memperhatikan Allah sepenuh-penuhnya perhatian. Lalu, saya tanamkan juga pemahaman kepada diri saya sendiri untuk bersabar menanti pertolongan Allah dengan menyabarkan diri terhadap apa yang terjadi selama saya menjaga ibadah dan keyakinan saya. Saya ajarkan diri saya, masakan ketika baru masuk sudah mau minta diperhatikan dan dijawab? Saya riangkan hati, bahwa mendekatkan diri saja kepada Allah, sudah merupakan satu keberuntungan.

Sampe ketemu di esai berikutnya. Kita berdoa untuk diri kita, keluarga kita, dan bangsa kita, agar hanya Allah saja yang menjadi Tuhan kita. Jangan ada yang lain. Dan agar kita menjadi hamba-Nya yang baik, yang ringan mengerjakan amal saleh, berilmu dan bagus keyakinan dan imannya kepada Allah.

Ocre, met belajar dan beramal, sampe ketemu di perkuliahan berikutnya. Jazaakumullaah ahsanal jazaa.

Oh ya, harapan saya juga, setelah Saudara mendengar tausiyah tentang 10 dosa besar, muncul bukan hanya ketakutan untuk jangan lagi melakukan dosa di kemudian hari, namun juga muncul kebersyukuran.

Koq kebersyukuran?

Ya, sebab kita masih diberi-Nya kesempatan hidup. Dan kalau kita masih hidup, masih sempat memohon ampun dan memohon rahmat-Nya. Kita sama-sama berdoa ya agar Allah kasih kita kesempatan bertaubat dan beramal saleh sebagus-bagusnya di ujung kehidupan kita ini.

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelom datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu barulah dia berkata, “Ya Tuhanku, kalau Engkau menangguhkan kematianku walau sebentaaaaar saja, aku akan sedekah dan jadi orang yang saleh.

Tapi Allah tidak akan menangguhkan kematian seseorang yang sudah sampe ajalnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (baca: Qs. al Munaafiquun: 10-11).

Baca tuh ayatnya. Langsung di al Qur’annya. Baca juga sebagai tugas buat Saudara: Qs. Aali ‘Imraan: 131 s/d 143. Baca ayat-ayatnya, dan baca terjemahannya.

Insya Allah Saudara yang sudah mulai meniti jalan-jalan taqorrub, yakni jalan-jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, mudah-mudahan Saudara bukan saja sedang menabung amal saleh setelah barangkali tabungan amal salehnya ga diisi-isi. Melainkan juga amal-amal saleh itu mengikis perbuatan buruk, mengikis perbuatan dosa. Semoga Allah memberikan kesempurnaan ampunan, dan menerima amal ibadah kita. Aamiin.
Allah Sebagai Pusat
Kuliah Online Ustadz Yusuf Mansyur Sesi - 3

Orang-orang yang mengenal Allah dan meyakini-Nya, insya Allah akan tenang hidupnya, jauh dari kekhawatiran, jauh dari kegelisahan.

Semoga ketika Saudara semua belajar sesi yang telah lalu, Saudara sudah langsung memulai perjalanan 40 hari memelihara shalat berjamaah di masjid, tepat waktu, dan 40 hari berzikir dengan zikir yang disertakan kemaren. Jika Saudara memperhatikan dengan baik, di mana saya mengatakan, “Sebaiknya zikir ba’da shalat yang diajarkan Rasulullah, juga dibaca”, maka Saudara juga secara tidak langsung membaca juga secara disiplin zikir ba’da shalat selama 40 hari.

Semoga aja ya. Tambah lagi saya berdoa, agar Saudara bisa kemudian tidak meninggalkan kebiasaan ini setelah 40 hari selesai.

Saya memperhatikan belom apa-apa Saudara sudah ada yang mengatakan bid’ah. He he he, biar saja. Bukan tempatnya di sini membahas tentang apakah sesuatu amalan dikatakan bid’ah dan tidak. Insya Allah saya teramat berhasrat membahas secara komprehensif, dengan melibatkan para PAKAR di bidangnya. Di Kanal Kuliah 40 Hari Menjadi Kaya, dan di banyak sebaran kuliah, saya bahas pelan-pelan, namun belom komprehensif. Insya Allah akan dicoba digelar kanal khusus deh. Insya Allah. Saya teramat menghindari perdebatan yang akhirnya menguras tenaga dan pikiran hanya untuk saling menyodorkan dalil. Wong landasan berpikir, cara berpikir, di menentukan sesuatu bid’ah atau tidak udah beda, ya seringnya memang ga ketemu. Ga ada yang mau dikatakan salah, semuanya benar. Termasuk saya, he he he. Saya menghormati siapa saja yang mau memurnikan ajaran Islam, namun teramat menyayangkan bila terlampau simpel mengambil dasar hukum hingga banyak hal kemudian menjadi bid’ah dan dianggap sesat. Termasuk soal “Riyadhah 40 hari”, soal penetapan angka 40 hari. Di mana disebut bahwa Rasulullah tidak pernah melakukannya. Saya melakukan fiqhud-dakwah. Saya mencoba mendorong Saudara semua untuk masuk ke gerbang iman, keyakinan, dan mulai mau memperbaiki ibadah.

Sementara itu, saya ingin mengatakan, bahwa saya ketika menulis KuliahOnline ini, sudah silaturahim dan bertukar pikiran dengan banyak kyai-kyai yang saya pandang ahli di bidang al Qur’an dan hadits. Mudah-mudahan yang saya ajarkan dan yang Saudara pelajari dan ikuti, bukan sesuatu yang sesat.

Insya Allah ya. Doain, supaya ada kesempatan ngumpulin para pakar untuk bicara tentang bid’ah dan tidaknya satu amalan.

Ok, kita kembali lagi dengan seruan saya, untuk Saudara-Saudara semua nge-track di perjalanan 40 hari memperbaiki ibadah.

Pengalaman saya pribadi, ketika nge-track perjalanan tersebut, saya malah asyik mikirin ibadah dan ibadah. Sampe-sampe lupa mikirin masalah, he he he.

Tentu saja it’s only joking. Mikirin ya tentu saja mikirin. Hanya saya lebih memilih relax. Saya pilih mikirin ashar ketika di waktu zuhur. Ashar di mana niy? Gitu. Jangan sampe ashar masih di jalan, ga ke masjid, ga nyantai, terburu-buru. Saya memprogram ulang diri saya, badan saya, pikiran saya, hati saya, hingga kemudian saya mendapati pikiran saya jauh dari stress ketika stress. Sebab yang lebih banyak diingat adalah Allah. Saya tidak memakai kalimat “hanya ingat Allah”. Sebab betapapun kita-kita ini manusia. Ya kalo ditimpa masalah, mestilah masalah itu membebani pikiran. Nah, dengan membuat diri kita sibuk dan banyak mikirin Allah, mikirin ibadah, maka insya Allah porsi mikirin masalah jadi tinggal sedikit. Atau malah sama sekali udah ga mikirin. Dibebasin aja. Diterimain aja.

Nah, jika sebelomnya saya atas izin Allah mengajak Saudara untuk 40 hari shalat berjamaah di masjid, atau minimal shalat tepat waktu buat yang perempuan, maka insya Allah di awal materi ini, saya mudah-mudahan bisa mengajak Saudara semua untuk memulai bangun malam, untuk menegakkan shalat malam (tahajjud). Amin. Dan semoga perkuliahan tauhid ini bukan hanya sekedar teori, melainkan ada perubahan yang kita usahakan untuk sama-sama berubah. Amin ya Rabb…

***

Ada sepasang suami istri datang. Mereka minjam mobil tetangga. Namun saat mereka pinjam, mobil itu hilang. Dan itu meninggalkan masalah mestinya. Tetangganya minta ganti mobil tersebut. Untuk mengganti sebesar 130jt atau mobil sejenis, bagi pasangan suami istri ini tidak mudah. Mobil tetangganya ini udah dilengkapi alarm, udah dilengkapi GPS. Dan tidak ada asuransinya. Masalah menjadi jadi sebab tetangga ini jadi orang kalap. Ia melaporkan ke polisi sebagai perbuatan yang menyengaja mobil ini menjadi hilang dan tuduhan macem-macem.

Saya terus terang belajar dari kisah ini. Saya yang mengajarkan tauhid, malah belajar dari mereka. Mereka begitu tenang.

Pertama, mereka sadari ini Kehendak Allah. Apakah Allah hendak menyusahkan mereka? Mereka menjawab, tidak. Allah pasti menghendaki yang baik-baik. Siapa yang mengizinkan mobil tetangga itu mereka pinjam? Allah. Siapa yang menghendaki mobil itu hilang ketika dipakai? Pinjem lagi. Tentu tidak ada. Tapi mengapa terjadi? Semua terjadi sebab Kehendak-Nya. Sebab Izin-Nya. Mereka tanda tangani surat pernyataan bakal mengganti dengan penuh ketenangan. Luar biasa.

Ketika ditanya kenapa bisa tenang? Mereka bilang, hanya dengan mengingat Allah, hati jadi tenang. Dari kisah suami istri ini saya malah belajar lagi rangkaian ayat-ayat yang insya Allah saya hafal:

Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang DIA kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit. (ar Ra’du: 26).

Suami istri ini berkisah, mereka menganggap ini adalah pelajaran iman. Pelajaran tauhid. Bukan masalah. Bukan persoalan. Tapi berkah. Siapa yang beruntung selain yang mendapatkan pelajaran dari Allah dan Allah yang langsung mengajarnya?

Luar biasa…

Saya “diajarinya”. Diajari beliau-beliau ini, he he he. Jarang-jarang kan ada yang konseling malah diajarin sama yang konseling? He he he. Kalo saya mah ya sering. Caranya, ya biarkan aja yang datang mengadu ini bercerita sendiri tentang masalahnya. Insya Allah dengan demikian saja sudah jadi pelajaran buat saya. Ya, setiap masalah yang datang, adalah pelajaran buat saya. Insya Allah.

Apapun yang terjadi, bagi suami istri ini adalah kehendak Allah. Mereka senang, mereka susah, sepenuh-penuhnya bukan urusan manusia. Tapi urusan Allah.

Dan saya membenarkan. Banyak orang yang gagal mendapatkan sesuatu, gagal mengerjakan sesuatu, gagal mencapai sesuatu, atau sebaliknya, lalu tiba-tiba saja mereka mempersekutukan Allah.

Paham ga?

Engga ya?

He he he, nuduh ya?

Gini… Ada orang udah ngumpulin duit sampe 80jt. Niatannya mau pergi haji. Tapi kemudian anaknya ada keperluan mendesak. Dia harus cairkan uang itu tapi buat urusan anaknya. Bukan urusan hajinya. Kalau keluar omongan: “Mestinya saya pergi haji tahun depan, udah daftar, dan bisa langsung lunas. Tapi ada-ada aja. Gara-gara anak saya, akhirnya saya gagal deh berhaji.”

Tipis sih. Mungkin kita juga ga ada maksud mempersekutukan Allah. Namun kualitas pembicaraan sungguh akan mempengaruhi kualitas hati. Segitu urusannya urusan anak sendiri. Kalo orang lain yang ngembat, wuah akan lebih sengit lagi ngomongnya.

Ada yang udah mempersiapkan biaya S2. Tapi iparnya datang. Butuh duit. Sedang duit persiapan S2 belom lagi dipake. “Silahkan dipake, tapi jangan sampe Desember besok ya mulanginnya. Mau dipake buat pendidikan si abang S2.” Begitu kata istri ini mengingatkan. Tapi kemudian sampe 2th dari perjanjian yang hanya 1-2bl saja, duit itu ga kunjung dikembalikan. Nah, tuhannya siapa tuh kalo begini? Banyak yang kemudian tidak nerima, dan kemudian segalanya jadi berantakan. Harusnya kan yang berantakan kalopun harus berantakan adalah S2 nya saja. Ga ngembet ke kehidupan yang lain. Suami istri ini menyalahkan keadaan, menyalahkan si pemakai duit. Kalo engga dipake, tentu udah selesai S2. Dan akan semakin bertambah tuhannya. “Kalo S2, kan bisa naik pangkat, naik karir. Kebetulan ada promosi di kantornya suami,” keluh istrinya. Wuah, bener-bener semakin banyak tuhannya. Emangnya ada yang bisa mendatangkan manfaat dan menolaknya, selain Allah? Apa bener kalau duit ada, pasti bisa S2 nya? Apa bener kalau bisa S2 lalu bisa naik pangkat? Dan apa bener juga kalau ga ada duit ga bisa S2? Dan apa bener kalau ga S2 ga bisa ikut promosi? Emang siapa yang bisa ngizinin S2 dan tidak? Siapa juga yang bisa ngizinin seseorang naik pangkat, turun, atau malahan dipecat?

Kebaikan baik sangka kepada Allah, akan membuat ketenangan juga akan semakin hebat. Seperti yang dialami suami istri yang ketempuan harus mengganti mobil yang hilang.

Apakah sudah lapor polisi? Sebagai ikhtiar, sudah.

Kembali lagi ke suami istri ini. Mereka kemudian tanda tangan aja. Dengan entengnya mereka mengembalikan kepada Allah. “Asalnya masalah ini adalah Allah. Jadi ya dikembalikan saja lagi kepada Allah.”

Tapi darimana menggantinya?

Mereka ga mikirin. Mereka mau mikirin Allah aja. “Bisa stres kalo mikirin masalah.”

Bener. Tapi stres ga?

He he he, sebenernya suami istri ini stres juga. Tapi mereka mau melawan. Ketika di depan saya, mereka menangis. Terasa sekali ada perlawanan untuk tidak stres, untuk tetap tenang, untuk tetap yakin akan pertolongan Allah.

Semua kejadian di masa depan dan yang sudah kita lalui, siapa yang perkasa untuk mendapatkan dan menghindarinya? Tidak ada. Sekuat apapun kita tidak akan bisa menolak. Selemah apapun kita, sebaliknya tidak mesti harus tertabrak masalah.

Suami istri ini memposisikan sebagai yang lemah. Allah yang Maha Kuat. Seberapapun mereka menghindari kejadian ini, hanya akan menambah lemah dan lemah, sakit dan sakit. Akhirnya yang ada hanya sesal nantinya. “Coba dulu ga usah pergi, kan ga usah pinjem mobil. Coba dulu ga usah pengen enak, pake angkot aja. Pake taxi dah. Kan ga perlu harus kehilangan mobil…”. Makin dicari kalimat-kalimat seperti ini, makin semakin banyak faktor pembuat tidak tenang, gusar, gelisah, dan sempit hati. “Coba tuh mobil ada asuransinya, kan ga repot…”. Percayalah, pikiran kita akan memberikan kontribusi negatif lebih banyak lagi: “Mana hanya pegawai rendahan… Darimana ganti mobilnya…”. Lah kan, makin terus saja? Emangnya kalo pegawai rendahan ga bakalan bisa ngembaliin mobil yang hilang?

Maka saya kagum. Harusnya kita juga begitu. Mau menjadikan Allah pusat segala-galanya. Termasuk pusat segala keberhasilan, kesaksesan, kejayaan, kemenangan, kebahagiaan. Barangkali sebab itu kita kudu bismillah dan alhamdulillah. Agar dari awal sampe akhir, tetap bersama Allah dan mengingat Allah. Dan di tengah-tengahnya ada keharusan menjaga yang wajib dan menghidupkan yang sunnah. Agar setiap saat bersama Allah.

Dari ayat 26 Surah ar Ra’du di atas, saya cuplikan lagi yaaa… :

Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang DIA kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit. (ar Ra’du: 26).

Dari kisah suami istri yang kehilangan mobil ini, mereka menganggap bahwa kesulitan dunia mah ga ada seberapanya dibanding dengan kesulitan hari akhir. Sebagaimana kesenangan dunia yang disebut Allah sebagai ga seberapanya dibanding kesenangan hari akhir. Mereka mencoba meyakini bahwa kasus kehilangan mobilnya ini barangkali akumulasi perbuatan buruknya yang berwujud mobil ini. Bisa jadi ada kesalahan di tempat yang lain, lalu berbuah kesulitan ini.

Boleh saja Saudara ga setuju. Saya berharap peserta Kuliah Online sudah mengikuti sesi 10 Dosa Besar dengan lengkap sehingga mengerti pendapat seperti ini.

Bila tidak ada kesalahan, suami istri ini tetap menghibur diri bahwa Allah sedang menghendaki sesuatu terhadap mereka. Bisa jadi ini adalah awal dari ketemunya penghasilan baru dari pekerjaan baru. Kalo ga ada masalah, tidak akan ada lompatan… Pokoknya, kalau ga Allah kehendaki pertobatan, tentu Allah menghendaki kebaikan. Persis kira-kira sebagian maksud dari ayat 27-nya, lanjutan ayat tersebut di atas:

Orang-orang kafir berkata: Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad tanda mukjizat dari Tuhannya? Katakanlah sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang DIA kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya.” (ar Ra’du: 27).

Persoalan hidup, permasalahan hidup, adalah mukjizat juga dari Allah buat mereka-mereka yang mengalaminya. Kelak banyak yang bisa berhasil sebab melewati berbagai kesulitan dan persoalan hidup. Lebih berhasil, lebih terang, dari sebelom punya masalah. Suami istri ini mau menjadi yang demikian. Dan mereka bersyukur, bahwa persoalannya membawa mereka bisa meneliti kesalahan-kesalahannya kepada Allah dan kepada sesamanya. Persoalan mereka pun akhirnya disyukuri sebagai membawa ibadah yang lebih baik bagi keduanya, dan sudah menjadikan mereka menjadi lebih arif lagi bahwa bisa apa manusia kalau Allah sudah berkehendak.

Ada yang bilang di antara Onliners, kenapa suami istri ini ga melakukan perlawanan? Kan bisa lapor balik, dengan pasal-pasal yang bisa dicarikan. Atau bertahan melewati berbagai pengadilan dan proses pengadilan?

Kita pun harus menghormati pilihan suami istri ini yang memilih ga memperpanjang. Diperpendek dengan memperpanjang urusan dengan Allah saja.

Lihat ayat 28 dan 29 nya…

Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram.

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (ar Ra’du: 28-29).

Fokusnya suami istri ini ke Allah. Ke ibadah. Bukan ke masalahnya. Dan insya Allah dengan begini ia menjadi tenang. Dan Saudara yang ga setuju, jangan berkernyit dulu. Ga apa-apa ga setuju, sebab ga harus setuju. Namun perlu diketahui, bahwa selesainya masalah, bisa juga berawal dari ketenangan. Tanpa ketenangan, yang ada kepanikan. Dan kepanikan akan menambah banyak masalah. Dengan mendekatkan diri kepada Allah, sesungguhnya membantu “pihak lawan” juga, agar si suami istri ini justru bisa bayar dan mengembalikan mobil yang dikerja hilang.

Dalam satu kesempatan beraudiensi dengan pemilik dan pengelola bank, saya menyarankan untuk mengadakan banyak kegiatan-kegiatan keagamaan dan pengajaran akan Allah dan Rasul-Nya. Buat siapa? Buat mereka-mereka nasabah yang ga bisa bayar pinjemannya ke bank. Ajarkan mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kenalkan mereka kepada keajaiban Pertolongan Allah. Selanjutnya bersisian dengan mereka yang ga bisa bayar dalam upaya mendekatkan diri ke Allah. Insya Allah bisa dikurangi dah tuh angka hutang yang tak bisa dibayar. Cara ini boleh jadi disangka bukan cara yang lazim. Tapi ya beginilah Yusuf Mansur. Mau kemana lagi kita mencari pertolongan? Kalau bukan ke Allah. Sepenuh-penuhnya Kuliah Tauhid sepanjang perkuliahan mengupas soal ini.

Suami istri tersebut di atas, menyerahkan motornya untuk sedekah. Dia berharap pintu rizki akan terbuka, sekaligus sebagai permohonan pertaubatan dengan sedekahnya mereka ini. Plus berharap agar Allah memberikan pertolongan-Nya.

Motor ini saya terima, dan lalu saya berikan lagi kepada mereka. “Jual-lah motor ini. Dan gunakan sendiri untuk mendirikan rumah tahfidz… Selain menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah seperti biasanya, sibukkan diri juga dengan belajar dan mengajarkan al Qur’an. Ini juga ibadah yang hebat.”

Lalu saya jelaskan panjang kali lebar tentang rumah tahfidz, tapi secukupnya. He he he, ada ya panjang kali lebar tapi secukupnya?

Ya ada. Ini yang saya jelaskan kepada mereka.

Terlampir juga di Sesi Kuliah Tauhid ini buku-buku dan CD/DVD yang Saudara harus miliki. Buku-buku tentang rumah tahfidz dan CD-CD/DVD-DVD yang berkaitan dengan rumah tahfidz. Mudah-mudahan Saudara pun mau mempelajarinya dan bersama-sama menyiarkan al Qur’an di lingkungan masing-masing, khususnya buat diri sendiri dan keluarga.

Saya belom tau terusan cerita suami istri ini bagaimana. Masih berlangsung. Suami istri ini baru datang sepekan sebelom ramadhan 1432H datang. Dan datang lagi silaturahim dengan kawan-kawan di pesantren, termasuk ke istri saya di awal Ramadhannya. Cerita selanjutnya belom tahu.

Bila ada kawan-kawan yang mau konseling, saran saya, ikutin saja KuliahOnline ini dengan tenang dan sempurna, dan berburu saja buku-buku saya dan CD/DVD. Pelajari saja. Lewat media buku-buku dan CD/DVD, insya Allah Yusuf Mansur lebih puanjang dan lebih luebar lagi dalam berbicara dan menjelaskan. Jika pun tetap pengen datang ke pesantren, silahkan berusaha nemuin Allah. Jangan nemuin saya, he he he. Temuin ustadz-ustadz di sana, dan bicaralah dengan siapa ustadz yang ditemui di pesantren Daarul Qur’an Internasional – Ketapang. Cukupkan diri dengan ini semua. Jangan ngarepin ketemu Yusuf Mansur. Susah, he he he. Oke yah? Ga pa-pa koq datang ke pesantren, sambil bawa anak-anak dan keluarga. Namun bener-bener saya kasih tau, niatnya jangan pengen ketemu Yusuf Mansur. Tar banyak kecewanya.

Saya berdoa untuk Suadara semua. Mudah-mudahan sedang tidak punya masalah. Dan andaipun punya, atau pun suatu saat bakal punya, sebagai sesuatu yang sifatnya memang sunnatullah pasti akan bergilirnya, Saudara memiliki bekal ilmu dan iman yang sangat cukup. Amin.

***

Di sesi ini pun saya masih ingin bersama Saudara semua. Saya masih pengen mengisahkan kisah pembelajaran tauhid yang lain. Kisah tentang Bu Yuyun, sebut saja begitu. Ibu ini punya anak semata wayang yang ia besarkan tanpa suami. Sejak putranya ini masuk SMA kelas 1, suaminya meninggal. Dari hari ke hari ia kuatkan batinnya bahwa ia TIDAK SENDIRIAN dalam membesarkan anaknya. Ia bersama Allah. ALLAH SELALU MENEMANINYA. Ini yang ia yakini. Saban shalat ia berdoa agar diberi kemampuan membesarkan anaknya dan memiliki rizki yang cukup. Ya, bener loh. Hampir saban shalat ia berdoa.

Saya banyak belajar dari Bu Yuyun ini. Ketika banyak orang gelisah, ia hidup tenang. Sebab ada Allah di hatinya, ada Allah di pikirannya. Ketika banyak orang ketakutan dan risau dengan dunianya, ia tenang-tenang saja. Persis seperti meja, yang begitu tenang sebab memiliki empat kaki yang kuat yang menopang keberadaannya. Hidupnya begitu santai. Dan ini yang menjadikannya lebih kaya ketimbang orang yang kaya tapi hidup selalu penuh dengan kekurangan.

Sebagai ikhtiar dunianya, ia membuka jahitan rumahan. Ia bertutur, selalu ada saja pelanggan di saat yang tepat ia membutuhkan rizki. Sudah diatur Allah, begitu katanya.

Sejauh ini, aman-aman saja.

Sampe kemudian anaknya ini pergi hari itu untuk melihat kelulusannya; masuk atau tidak ia ke perguruan tinggi yang ia idam-idamkan.

Bu Yuyun berdebar-debar. Ia tahu, kalau anaknya lulus, ini masalah buat dirinya. Kalau anaknya tidak lulus, pun masalah buat dirinya juga. Tentu saja ia senang dapat masalah dalam bentuk anaknya lulus. Masalahnya tentu saja apalagi kalau bukan uang kuliah anaknya. Tapi segera ia banting sesuai dengan pengalamannya selama ini. Ada Allah Yang Maha Memberi Rizki. Dan ini yang membuatnya tenang.

Ia kenal dengan Allah, bahwa Allah selama ini senantiasa mencukupkan rizki buat dirinya dan anaknya.

Ia tahu bahwa Allah Maha Tahu bahwa ia sedang membesarkan anaknya. Dan Allah pun tahu bahwa hari ini akan ada khabar tentang nasib anaknya. Kondisi ini sudah ia sampaikan ke Allah jauh-jauh hari, bahwa ia butuh biaya buat anaknya lulus. Dia yakin, Allah pasti akan memenuhi kebutuhan anaknya, dan atau memberikan yang terbaik. Ia malah bersemangat sekali untuk menambah kedekatan dirinya dengan Allah. Sekali lagi, ini yang membuatnya tenang.

Dan memang Allah Maha Mengatur. Sehari setelah anaknya dinyatakan lulus, Allah kirimkan paman anaknya ini, alias adik almarhum suaminya. Hari itu, beliau berkunjung silaturahim. Dan Allah alirkan rizki untuk anaknya, lewat pamannya ini. Bukan hanya untuk uang masuk kuliahnya saja, tapi juga untuk biaya kuliah secara keseluruhan.

Semoga saya -- dan kita semua -- bisa belajar lebih banyak lagi dari Bu Yuyun ini.

***

I’m coming ya Allah. Saya datang kepada-Mu ya Allah. Semestinya, dengan banyaknya masalah dan hajat saya, saya harusnya lebih bersemangat lagi dan tanpa lelah mendatangi-Mu dan memohon pada-Mu.

Bolehlah dibilang bahwa hidup ini harus punya keyakinan terhadap Yang Kuasa. Tanpa ini, akan lemah sekali kita menjalani hidup ini. Dan untuk memiliki keyakinan, buka diri buka hati untuk menerima ilmu dan pengajaran tentang keyakinan. Kita sama-sama meminta kepada Allah agar Allah betul-betul membukakan mata hati kita bukan saja untuk mengenal-Nya, tapi juga untuk meyakini-Nya; yakin akan Kebesaran-Nya, yakin akan Kekuasaan-Nya. Kita butuh Allah. Dan senantiasa akan selalu butuh Allah. Maka bertuhanlah Allah. Sebener-benernya pertuhanan. Supaya Allah betul-betul menjaga kita, menolong kita, dan menyediakan apa-apa yang kita perlukan yang kita butuhkan. Jangan sampai kita hidup seperti tidak punya Allah. Allah Maha Memberi Rizki, tapi hidup kita susah. Allah Maha Menolong, tapi setiap ada hajat dan masalah, selalu merasa mentok. Kalo bahasa saya mah, Allah dianggurin. Alias “dibikin nganggur’, sebab jarang kita deketin, jarang kita mintakan bantuan-Nya.

Untuk sebagian Saudara yang sedang merasa aman-aman saja, hidupnya sedang baik-baik saja, tetap saja harus bersemangat mendatangi Allah, tanpa lelah, tanpa bosan, dan terus menambah ilmu di urusan-urusan ibadah dan pengetahuan agama. Minimal yang menyangkut ibadah keseharian. Banyak-banyak beli buku, dan ikut kajian-kajian agama. Allah yang menjaga kita ketika kita tidur dan terjaga. Allah yang memberi segala apa yang kita butuhkan dan yang tidak kita butuhkan, hanya karena kita tidak mengerti bahwa yang kita tidak butuhkan pun adalah hal yang kita butuhkan. Allah menyediakan alam ini dan segala isinya, yang saling kait mengait untuk keperluan semua ummat manusia termasuk kita. Lihatlah diri kita. Bagaimana Allah membangun sistem kesehatan, sistem kekebalan tubuh, sistem pernafasan, sistem pencernaan, panca indera, dan lain-lain keajaiban dari diri kita. Kelewatan bila kita tidak berterima kasih kepada Allah, pemilik tubuh ini dan pemilik segala hal yang ada di langit dan di bumi. Kepada Allah kita beribadah, kepada Allah kita bersyukur.

Insya Allah doa bi doa. Saya mendoakan Anda semua, dan Anda juga doakan saya. Supaya Allah betul-betul hadir di kehidupan kita dan berkenan hadir di kehidupan kita; Baik di kala senang, atau di kala susah. Baik di kala bahagia, maupun di kala duka. Baik di kala lapang, maupun di kala sempit. Di semua keadaan semoga Allah yang selalu bersama kita, senantiasa kita senantiasa bersama-Nya.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Kami-lah Pelindungmu di dunia dan di akhirat; Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.

Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Fushshilaat: 31-32).

***

Saya belom “pergi” loh, dari sesi ini.

Kita masih mempelajari kisah Bu Yuyun di atas.

Ada baiknya peserta Kuliah Online mempelajari sedikit kisah Bu Yuyun ini, pelan-pelan. Kalau perlu DIULANGI LAGI bacaannya. Betul-betul diresapi. Kenapa ada orang yang begitu dimudahkan urusannya sama Allah, dan mengapa ada yang sepertinya diblok, dipersulit oleh Allah.

Saya meminta Saudara-saudara semua bersabar, mempelajari Kuliah Tauhid ini mahlan mahlan, pelan-pelan. Saudara insya Allah belajar tentang sesuatu yang membuat Saudara-saudara semua ada PERCEPATAN di semua urusan. Termasuk di urusan mengubah hidup, memperbaiki hidup, dan di urusan pencarian solusi buat permasalahan kehidupan yang sedang dihadapi. Namun “Ilmu Percepatan” ini akan bahaya di kedepan harinya, manakala Saudara-saudara tidak punya basic tauhid yang bagus.

Saya tidak terlalu perduli omongan kawan-kawan peserta Kuliah Tauhid yang mengatakan, ada baiknya memberi banyak pelajaran buat kawan-kawan peserta Kuliah Online agar banyak yang didapat. Saya tidak perduli. Saya bahkan ketika belajar, dapat jauh lebih sedikit ketimbang ini. Malah menurut saya, saya sudah terlalu baik, he he he. Saya memberi artikel yang pembahasannya agak luas dan panjang, bisa berbelas-belas halaman. Bahkan sejak jejakan pertama di mukaddimah dan kuliah umum dulu udah kebanyakan belajarnya. Dibanding saya dulu belajar, wuah, saya mah belajarnya se-emprit se-emprit (sedikit sedikit).

Pernah satu ketika saya datang ke seorang ulama. Saya mengadu tentang masalah saya kepadanya. Meminta nasihat darinya. Saya datang dari jam 20 malam. Sampe jam 00 saya belum juga dipanggilnya. Boro-boro diajak bicara. Disuruh mendekat pun tidak. Di awal sih saya diajak bicara. Tapi bicaranya ketus sekali, “Koq datang lagi?!!!”

Saya jawab, “Ya, sebab masalahnya beluman selesai.”

“Ya sudah, tunggu sana,” katanya, sambil menunjuk satu sudut teras majelisnya.

Saudara-saudaraku Peserta Kuliah Online, saya kemudian menunggu dengan sabarnya. Tapi ga urung saya gatel juga untuk tidak bertanya setelah lebih kurang 4 jam saya menunggu!

“Kyai, sudah jam 12 (malam), kapan saya dikasih kesempatan bicara?”

Waktu itu saya lihat tamunya tinggal sedikit. Saya berharap saya bisa nyelang walo sebentar.

Ternyata saya salah.

“Yang nyuruh situ dateng siapa?”

“Ga ada. Saya sendiri.”

“Ya sudah, tunggu saja!”

He he he… Andai tidak ada husnudzdzan, baik sangka, niscaya saya sudah kesal bukan kepalang. Saya tentu akan mengatakan kepada Kyai ini, tidak menghargai tamu. Tapi ya itu. Saya menerima apa kata guru, dan saya memilih menerima perlakuan guru.

Kira-kira jam 1-an dinihari, mendekati jam 2 pagi, saya baru dipanggilnya.

Beliau lalu bertanya, “Tahu IBM ga?”

Sungguh pun saya tahu, tapi saya bingung. “Apa urusannya dengan masalah saya tuh IBM?”, tanya saya. Tentu saja dalam hati. Saya ga berani bertanya langsung. Akhirnya saya jawab singkat saja, “Tahu, Kyai.”

“Nah, IBM itu punya VPN, Virtual Private Network, jaringan jalur khusus. Ntar gue kasih VPN buat elu yang bisa jadi jalur khusus elu berdoa kepada Allah. Insya Allah hutang elu yang segede gunung, kempes dah!”

Kejadian dialog ini terjadi sekitar tahun 2003. Kyai ini akrab dengan istilah-istilah teknologi.

Sumpah. Saat itu saya merasa Kyai saya akan memberi saya sesuatu yang gimanaaa gitu. Sesuatu yang BESAR yang bakal instan yang membuat selesai masalah saya. Sim Salabim. Begitu saya pikir. Ternyata saya tidak sepenuhnya benar. Malah, sempat berkernyit dan tertawa kecil.

Kyai tersebut masuk ke dalam rumahnya, dan sejurus kemudian keluar lagi membawa DUA PENTOL KOREK API. Dua korek api itu dilempar ke arah saya. “Nih pake nih...,” katanya. Ngasihnya bener-bener dilempar. Sebab beliau ngasih sambil berdiri. Sedang saya duduk di bawahnya. “Itu korek api, VPN buat elu. Pake tuh yang bener. Udah gih dah, pulang!”

Saya pulang akhirnya.

Kurang lebih 6 jam saya menunggu, hasilnya 2 korek api saja!

Menggerutu ga saya?

Ntar dulu. Saya berpikir bahwa saya barangkali belajarnya kudu sedikit demi sedikit.

Tapi apa ya maksudnya?

Pelan-pelan saya pikirkan. Hingga akhirnya saya mengaitkan dengan kalimatnya tadi:

“Nah, IBM itu punya VPN, Virtual Private Network, jaringan jalur khusus. Ntar gue kasih VPN buat elu yang bisa jadi jalur khusus elu berdoa kepada Allah. Insya Allah hutang elu yang segede gunung, kempes dah!”

Saya akhirnya mampu atas izin Allah mengkorelasikan 2 korek api yang nyaris tanpa kata-kata itu dengan kalimat singkat Kyai. Rupanya saya disuruh bangun malam. Jangan banyakin tidur. 1 korek api pake buat ngeganjel mata kanan, 1 korek api yang lain buat ngeganjel mata kiri. Supaya jangan kebanyakan tidur. Masya Allah.

Satu hal yang mau saya kata, adalah sabar. Belajar itu harus sabar. Kita sama berdoa kepada Allah, agar Allah betul-betul berkenan memberi kita ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. Sesuatu yang sedikit yang diberi-Nya manfaat dan ada ridha-Nya, niscaya menjadi sesuatu yang betul-betul berpengaruh positif bagi hidup kita. Wallaahu a’lam.
Laa ilaaha illallaah  لا اه له ا لا ا لله
Kuliah Online Ustadz Yusuf Mansyur Sesi - 2

Yang kita perlukan di kehidupan ini adalah tauhid, iman dan amal saleh. Yang kita perlukan adalah Allah. DIA Maha Mendengar, DIA Maha Melihat. DIA Maha Mengabulkan. DIA Maha Kuasa.

Sempatkan baca tulisan selangan ini ya… Sebagai contoh satu interaksi antara seorang manusia dengan Khaliq-Nya, dengan Allah.

Saat saya menyempurnakan tulisan ini, saya sempatkan mandiin anak-anak saya. Saya mencoba mengikuti apa yang dicontohkan ibu saya. Mandiin saya di waktu kecil dengan “air doa”, dengan “air shalawat”.

Maksudnya apa?

Maksudnya, sambil mandiin sambil doa sambil shalawat. Doa dan shalawat itu bisa diucapkan lewat lisan, dan bisa diucapkan lewat hati. Tatkala saya membuka pakaian anak-anak, saya baca doa dan baca shalawat. Apa yang diperlukan sama anak kita untuk hari yang dilaluinya, dan apa yang kita inginkan dari anak kita, dari Allah, kita sampaikan kepada Allah. Sambil buka bajunya kita sampaikan kepada Allah. Demikian tatkala nanti mengeringkan badannya anak, dan memakaikan pakaiannya. Saya coba penuhi dengan doa dan shalawat kepada Rasul.

Kelak bukan hanya saat mandiin, ngeringin badan, makein atau buka baju, doa dan shalawat. Namun di banyak kesempatan. Tatkala bangunin mereka dari tidur, dan tatkala nidurin mereka. Tatkala mereka pamit sekolah dan pulang dari sekolah. “Mandiin” diri anak-anak kita dengan doa dan shalawat. Jangan pelit-pelit berdoa dan bershalawat. Selain itu sebagai tanda Saudara terhubung terus sama Allah, juga ia menjadi pahala buat Saudara. Menjadi sesuatu yang bila “dikumpulkan” sebagai bekal hari akhir, akan sangat besar juga. Sebab doa dan shalawat adalah ibadah. Usahakan doa dan shalawat itu terucap. Supaya anak kita juga dengar, dan menjadi pembelajaran. Dan usahakan lagi doa dan shalawat itu pake hati. Yang tulus, yang yakin.

UNTUK SAUDARA YANG BELOM MEMILIKI ANAK KETURUNAN, DAN BAHKAN YANG BELOM MEMILIKI JODOH, saya doakan Saudara segera diberi hadiah Allah jodoh yang saleh salehah dan keturunan yang saleh salehah. Saya HENTIKAN dulu menulis ini, mudah-mudahan ini tidak menjadi riya dan sum’ah. Saya hentikan sebab saya mau shalat dua rakaat, shalat sunnah hajat, untuk Saudara-Saudara Onliners yang betul-betul belom memiliki jodoh dan keturunan. Agar Saudara betul-betul diberi Allah. Laa-ilaa-ha-illaallah. Hanya Allah yang bisa menghadirkan jodoh dan anak keturunan buat Saudara. Dan Allah Maha Kuasa.

Ok, mohon izin sebentar saya ambil wudhu, shalat, dan baca shalawat, untuk Saudara.

Dan kiranya beginilah Saudara bagi saudaranya Saudara yang lain. Saling memberi hadiah kebaikan dan doa. Buat yang luang waktunya, dan dalam keadaan bisa shalat, silahkan jeda sebentar, ambil wudhu juga, lalu shalat sunnah 2 rakaat, dan baca shalawat. Shalawatnya 10x cukup, sebagai pengantar doa Saudara buat diri Saudara dan buat saudaranya Saudara, termasuk saudaranya Saudara di KuliahOnline ini yang boleh jadi Saudara sama sekali ga tau dan ga kenal. Sebut saja dalam doa yang sederhana: Ya Allah, bila ada peserta KuliahOnline yang belom memiliki jodoh dan anak keturunan, berikan mereka jodoh dan anak keturunan, yang saleh salehah lagi bagus dunia akhiratnya. Kira-kira begitu.

Nanti nih, salah satu yang diajarkan di KuliahOnline adalah Saudara berdoa untuk orang lain. Tidak selalu harus untuk diri Saudara sendiri. Hal sepele seperti Saudara mendengar tangisan anak bayi di dalam bus, sama-sama penumpang, Saudara kemudian sempatkan mendoakan anak tersebut supaya berhenti nangisnya dan nyaman ibunya, nyaman juga penumpang lain. Ada kawannya Saudara, satu kantor, “terdengar” oleh Saudara, bahwa ia kena kanker, Saudara doakan dia. Saudara bisa memberitahu yang didoakan, sebagai kebaikan, atau Saudara boleh menyembunyikannya. Terserah saja. Jika diberi tahu kepada yang didoakan, seperti saya memberi tahu Saudara semua bahwa saya hentikan dulu ngajarnya untuk shalat dan doa, niscaya akan senanglah hatinya. Sebab didoakan. Didoakannya pake shalawat dan shalat lagi. Dan ini semua insya Allah jadi kebaikan buat kita juga.


***


Mudah-mudahan Saudara yang sudah sampe ke paragraf ini dalam keadaan sudah mengikuti saya; shalat, doa dan shalawat untuk yang lain.

Saya shalat atas izin Allah dengan membaca ayat yang di dalamnya ada perihal jodoh dan anak keturunan. Silahkan ikut dibuka Qur’annya. Saudara baca Qs. Aali ‘Imraan: 33-51 dan Qs. al Anbiyaa: 87-92. Insya Allah di sesi berikutnya saya sampaikan bacaan Qur’an saya dari ayat-ayat tersebut. Insya Allah akan segera diupload seperti al An’am tempo hari. Sebagai bacaan hadiah buat Saudara.

Nanti perhatikan al Anbiyaa ayat 89, kata-kata “fardan” sebenernya menunjukkan kesendirian Nabi Zakaria dan istrinya yang belom memiliki anak keturunan. Tapi insya Allah tidak mengapa dipake buat yang belom memiliki jodoh. Mudah-mudahan Allah yang menurunkan wahyu, tidak menyalahkan ayat ini dipake juga sebagai doa buat yang belom berjodoh.

Oh ya, sekedar jadi pelajaran tambahan di sesi ini, tadi saya doakan juga sekalian buat YANG SUDAH PUNYA JODOH DAN ANAK KETURUNAN. Supaya masing-masing jodoh dan anak keturunan yang saleh salehah, dan menjadikan diri kita semua hamba-hamba-Nya yang saleh salehah. Aamiin.

Ok, saya menyita Saudara semua ya? Engga lah. Kiranya ini pelajaran juga buat Saudara.

Alhamdulillaah saat menulis ini dan usai shalat, shalawat dan doa, ibu kandung saya datang. Saya gunakan kesempatan untuk mendoakan Saudara semua. Allah Maha Luar Biasa. Saya sedang mengenang masa kecil saya bersama ibu yang kemudian jadi pelajaran buat Saudara semua. Bukan sekedar mengenang. Tapi saya tulis. Eh yang ditulis, datang. Subhaanallaah. Nikmat benar Saudara ini. Mudah-mudahan Onliners yang datang belakangan pun mendapatkan limpahan berkah ini. Aamiin. Foto ibu saya mendoakan Saudara semua, saya minta kawan-kawan upload. Doakan ibu saya ya…



***


Sekedar mengenang, waktu kecil sampe agak besar, saya dimandiin sama ibu saya. Saat dibuka bajunya, dan dipakaikan kembali baju yang lain, ibu saya membaca doa dan shalawat.

Kebayang ya?

Sehabis mandi, saya didirikan di atas bale batu. Di sana saya dikeringkan dan dipakaikan pakaian. Nah, sambil ngeringin dan makein, saya diajak bicara sama ibu dan dibacakan shalawat. Saya mengingat, ada doa dari ibu yang dari hari ke hari doanya iiiiiitttuuuu itu saja. Relatif hampir sama.

Kata beliau: “Ibu doainn mudah-mudahan nanti Kamu bisa pergi ke Mekkah seperti pergi ke depan pintu. Kapan mau pergi, tinggal jalan ajah. Malahan kalau mau pergi keluar negeri yang lain, kayak ke pasar ajah. Tinggal jalan”.

Doa ini saya katakan, hampir sama saya dengar saban harinya. 1 hari dimandikan 2x. Sehari saya didoain dengan doa yang relatif sama. Ada tambahan-tambahannya, disesuaikan dengan keadaan. Tapi yang paling rutin dan sering adalah itu. Doa lainnya yang rutin dan sering adalah: “Mudah-mudahan bisa menggantikan Guru Mansur. Jadi ulama besar. Jadi orang yang didenger”…

Makin saya besar, makin saya “mengerti” bahwa doa ibu saya itu ga mungkin dikabul Allah. Pergi ke Mekkah masa sama dengan pergi ke depan pintu. Yang bener aja?

Protes lah saya. “Bu… Kalo doa itu ya yang mungkin-mungkin aja. Jangan yang ga mungkin…”

Alhamdulillah, saya malah “disemprot”…

“E e e e e… Mana ada yang ga mungkin buat Allah…? Kalau Allah sudah bilang Kun, Fayakuun…!!!”

“Lagian, ibu baca doanya pake shalawat. Ga mungkin ga dikabulkan.”

Saya diem dah tuh. Dan terus menikmati doa dan shalawatnya ibu.

Dan waktu pun berjalan. Zaman dan situasi berbeda. Dulu, umrah itu ga booming kayak sekarang. Pergi haji juga barangkali ketika saya kecil, ga dikenal pergi haji plus. Paling tidak, ga kayak sekarang dah. Subhaanallaah, nah doa ibu ketika mandiin saya, ngeringin badan saya, dan makein pakaian saya, dikabul Allah.

Makin nyatalah bahwa DIA adalah Allah. Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada Tuhan selain Allah.

Belajar dari situ, belajar bahwa ga ada yang ga mungkin kalo kita berdoa, dan belajar untuk percaya dan yakin sama Allah, maka saya coba terapkan ulang sama anak-anak saya. Momen-momen apa saja dipakai untuk berdoa, mendoakan, dan didoakan. Berdoa bareng maksudnya, mendoakan anak, dan minta didoain anak.

Alhamdulillah, pagi-pagi saat mau menyempurnakan tulisan ini, masih dikasih kesempatan sama Allah mandiin anak dan menyiapkan sekolahnya.

Tatkala saya anter pake motor menuju sekolahnya, anak-anak, 2x angkut, karena 4 orang, he he he, saya ajak bershalawat di atas motor. “Ayo Bang, ayo De… kita baca shalawat….”. Lalu saya pimpin bacaannya. Kadang saya ganti sama baca tasbih. Kadang saya ganti sama ngobrol ringan sama anak-anak.

Okkeh, anak-anak sudah sekolah, dan alhamdulillah, makasih kepada Allah, masih diberi kesehatan dan umur. Mudah-mudahan kita semua diberi-Nya kesempatan untuk beribadah dan menyiapkan sebaik-baiknya amal dan sebanyak-banyaknya amal untuk bekal hari akhir.

Bismillaah ya. kita mulai belajar. He he, maaf ya. Dari tadi udah belajar sebenernya. Tapi belajar “selangan”. Berikut ini materi sebenernya dari sesi ke-2. Maaf, maaf, maaaaaaaaaafff… Semoga manfaat.

Oh ya, supaya ga bingung, saya beritahu. Tulisan berikut ini ditulis dengan waktu YANG BERBEDA. Bukan berarti saya menulis selangan, lalu kemudian dirangkai tulisan berikut ini. Bukan. Tulisan berikut ini sudah ditulis duluan. Dan nulisnya beda. Kalo yang selangan ditulis pagi hari. Kalo yang berikut ini ditulis sebelom datang waktu shubuh. Ini saya sampaikan supaya Saudara ga bingung…


***


Oh ya, waktu belajar di Mukaddimah dulu, bagaimana dengan ayat 160 s/d 165 Surah al An’aamnya? Sudah dilihat, dibaca dan diusahakan untuk dipahami? Sudah didownload juga kah audionya? Dan apakah sudah dihafal sekalian buat dibaca dalam shalat-shalat kita?

Mudah-mudahan udah ya.

Ok. Semoga Allah Yang Maha Patut Disembah, yang kehadiran kita ini adalah hanya untuk menyembah-Nya dan beribadah kepada-Nya, berkenan mengizinkan kita-kita yang lemah dan hina ini mengenal-Nya, dan dekat dengan-Nya. Amin.

Dan ayat-ayat tersebut (al An’aam 160-165) di antaranya dijadikan rangkaian bacaan Takbirotul Ihroom di dalam shalat setelah takbir. Pernyataan bahwa hidup kita, dengan segala gerak geriknya, adalah untuk Allah dan karena Allah.

Ya Allah, ini tidak gampang, kecuali Allah lah yang membimbing kita dan memberi kita taufik dan hidayah-Nya.


***


Saudara-saudaraku semua, ingin rasanya saya gemakan terus kalimat tauhid ini di hati ini. Saya jaga jangan sampai ia lepas. Bahwa Laa-ilaa-ha-illallaah, tidak ada Tuhan selain Allah. Termasuk di urusan rizki. Tidak ada pemberi rizki kecuali Allah. Tidak ada rizki selain dari Allah. Tidak ada cara mencari rizki kecuali caranya Allah. Tidak ada tuhan selain Allah pokoknya.

Saya mau meyakini Kalimat Tauhid ini, supaya enteng hidup saya, tidak kelelahan di dalam mencari dan menikmati dunia, dan menjadikan Allah sebagai Sentral Kehidupan saya.

Tidak mudah. Karenanya saya mau bersungguh-sungguh dan berdoa. Memohon taufiq dan hidayah-Nya.

Saya melihat tidak sedikit manusia yang kelelahan mencari dunia. Sebab yang ia cari memang hanya dunia. Tiada ia tempuh jalan-jalan ibadah yang mengantarkannya kepada Pemilik Dunia.

Saya tidak mau menjadi bahagian dari orang-orang yang kelelahan itu. Dan saya pun menginginkan Saudara semua tidak menjadi bahagian yang kelelahan.

Sungguh aneh manusia ini. Dan begitu lah juga saya melihat keanehan itu pada diri saya. Semoga tidak ada keanehan ini pada diri Saudara semua.

Pagi-pagi semua beterbangan mencari rizki ke tempat tujuannya masing-masing, sesuai dengan profesinya masing-masing. Tapi pagi-pagi juga sudah ada “yang dilupakan”, dan ada “tempat yang dilupakan”.

Kenal Allah? Tahu Allah?

Ga mungkin ya ga kenal dan ga tahu.

Kenal Rumah-Nya?

Ada yang menjawab dengan gagah, kenal. Tahu. Masjid kan?

Betul. Dan itulah “dua yang dilupakan”: Allah dan Rumah-Nya.

Saudara boleh saja menolak dan mengatakan, saya ga lupa koq sama Allah.

Saya tinggal jawab, “Masaaaa…???”

Tentu saja saya berharap, semua Onliners adalah orang-orang yang tidak pernah lupa dan lalai. Atau paling tidak, merupakan orang yang mulai belajar untuk tidak melupakan dan melalaikannya.

Andai Allah boleh dibayangkan, dilukiskan, divisualkan, sesuatu yang aneh, terjadi. Tentu saja ini tidak boleh. Tapi saya melakukannya untuk mempermudah penggambaran betapa kita-kita sungguh aneh.

Bayangkan Allah “berdiri” di depan Rumah-Nya. Di depan masjid. Bersama malaikat-malaikat-Nya. Lalu Allah “melihat” kita seliweran sana seliweran sini, mengejar rizki. Ada yang berjalan cepat, ada yang tergesa-gesa, dan ada pula yang biasa aja. Ada yang naik ojek, ada yang nunggu busway, ada yang naik kendaraan pribadi. Ada yang gelap-gelap udah jalan, ada yang matahari udah mau naik jalannya.

Ya. Allah melihat kita seliweran, lalu lalang, di depan rumah-Nya, di depan masjid-Nya. Mencari rizki, berburu rizki.

“Siapa mereka?”, begitu “mungkin” Allah bertanya kepada malaikat-malaikat-Nya.

Saudara ga usah berkernyit ya. Masa Allah “nanya” sama malaikat-Nya…

Sekali lagi, lukisan ini untuk “menampar” kita semua. Agar sedikit mau mengenal dan melibatkan Allah. Mencari rizki adalah pekerjaan mulia. Ia menjadi ibadah yang sangat hebat. Shalat “hanya” 5-10 menit. Tapi ibadah yang namanya “kerja” bisa 10-12 jam dihitung dari mulai jalan hingga pulangnya. Setara mungkin durasinya dengan ibadah yang namanya puasa. Maka jangan sia-siakan ibadah yang satu ini, dengan memberi nilai lebih, dengan memberi bobot lebih. Mulailah dari hal yang sederhana yang Saudara bisa petik dari hikmah lukisan dialog dan keadaan ini.

Kita ulangi lagi…

“Siapa mereka?”, begitu “mungkin” Allah bertanya kepada malaikat-malaikat-Nya tatkala menyaksikan hamba-hamba-Nya yang perlu akan rizki-Nya, tapi shubuhan “ga sowan” ke Allah, he he he. Ga sowan ke rumah-Nya. Sama rizki-Nya, perlu. Sama Allah malah ga perlu. Sama tempat rizki, diburu. Takut banget terlambat, takut banget dianggap ga disiplin. Tapi sama “sumber rizki” ga kenal. Sehingga merasa ga datang pun ga apa.

Malaikat menjawab, “Mereka adalah hamba-hamba-Mu…”

“Mau kemana mereka?”

“Mereka mau mencari rizki-Mu.”

“Kemana mereka berjalan? Kemana mereka menuju?”

“Ke tempat pekerjaan dan usahanya masing-masing wahai Allah…”

“Tidak kah mereka tahu Aku Yang Maha Memberi Rizki ada di sini?”

Allah berdialog dengan malaikat-malaikat-Nya “di depan” masjid-Nya, di depan Rumah-Nya.

Malaikat menjawab, “Tahu tapi kayak ga tahu… Paham tapi kayak ga paham. Ngerti tapi kayak ga ngerti…”

“Kenapa bisa-bisanya manusia melewati diri-Ku, melewati tempat-Ku? Lalu bisa-bisanya mereka menuju rizki-Ku, mencari rizki-Ku, tanpa tahu Aku ada di sini? Sedang Aku lah yang mengizinkan apa yang dicari oleh mereka menjadi didapat.”

Saudaraku, itulah sebagian keanehan kita, yang akhirnya banyak di antara kita yang kelelahan. Punya duit kayak ga punya duit. Tetap tidak berdaya menghadapi hidup ini. Tetap ada ketidaknikmatan di tengah nikmat.

Lihat saja diri kita. Mestinya shubuh-shubuh kita sudah bergegas menuju Allah, menuju masjid-Nya, menuju Yang Maha Memberikan rizki yang kita cari. Tapi apa yang terjadi? Saya menyebut: Pagi-pagi tempat itu sudah kita lupakan. Sejak pagi. Sejak gelap. Yang kita pedulikan hanya tempat kita bekerja. Allah, tidak kita pedulikan. Mungkin ada yang tahu ada yang tidak, betapa kecewanya Allah saat menjumpai hamba-Nya di pagi harinya yang dirisaukan soal dunia-Nya. Yang dirisaukan, persoalan hidupnya, hajat hidupnya. Jarang ada yang pagi-paginya mikirin Allah.

Sebagiannya lagi tahu, bahwa Allah itu datang di tengah malam. Di dua pertiga malam. Di sepertiga malam. Turun ke langit dunia. Langsung ke rumah kita. Langsung ke kamar kita. Allah bertanya, siapa di antara hamba-Nya yang meminta ampunan? Mau Allah beri. Siapa di antara hamba-Nya yang berdoa? Akan Allah kabulkan. Siapa di antara hamba-Nya, yang mencari rizki-Nya? Akan Allah berikan. Siapa di antara hamba-Nya yang punya kesulitan? Kesusahan? Akan Allah tolong, dan hilangkan. Siapa yang menginginkan sesuatu dari diri-Nya? Allah datang. Mengantar apa yang manusia butuhkan, mengantar apa yang manusia perlukan. Luar biasa. butuh pekerjaan, jodoh, proyek, modal, kesehatan… Apapun. Semua diantar Allah.

Orang-orang kaya didatengin gelap-gelap oleh orang miskin, tentulah mereka akan merasa terganggu. Penguasa dunia, para pejabat, yang notabene adalah wakil-wakil rakyat, bawahan rakyat, pun akan marah luar biasa, jika ada rakyat kecil yang bisa menerobos masuk dan mengganggu istirahatnya. Kita rela menanti seorang pejabat untuk menerima kita. Berbulan-bulan bisa jadi surat kita baru dibacanya, dan kemudian kita dipanggilnya. Untuk bicara yang belom tentu didengarnya. Kalaupun didengar, belom tentu dia bisa mengatasinya. Kita rela menghinakan diri kita di hadapan manusia lain untuk dapat bantuannya. Sedang Allah? DIA malah mendatangi kita. Di saat raja dunia tertidur, DIA malah mendatangi kita…

Tidak kah hal ini Saudara bisa rasakan? Lalu kemudian terasalah keanehan dimaksud?

Garis hidup kita sudah melenceng sejak dari tengah malam! Sejak dari dua pertiga malam. Sejak dari sepertiga malam. Manakala kita tidak punya kemampuan untuk bangun malam.

Oke lah. Itu ibadah sunnah. Gimana dengan shalat shubuh? Sebagiannya lagi menertawakan dirinya. Boro-boro bisa shalat shubuh berjamaah, di masjidnya Allah. Di “istana” Nya. Boro-boro. Sebagian kita bisa jadi tidak shalat shubuh sebab kelelahan berburu dunia. Pulang sudah larut malam. Kita tidak pandai mengatur waktu, agar bisa ketemu esok shubuh dengan Yang Menjamin Hidup, Pemilik Kebahagiaan dan Kesengsaraan. Kalau mau ketemu manusia, kita bisa persiapan ini persiapan itu. Tapi untuk ketemu Allah, nyaris tidak ada persiapan apa-apa, dan tidak siap! Ga siap bangun malam, dan tidak mempersiapkan diri. Tidak siap shalat shubuh, dan tidak mempersiapkan diri.

Itu baru sekelumit keanehan yang saya paparkan atas izin Allah di Kuliah Tauhid Sesi 2 ini. Sampe sini saja, kalimat Laa-ilaa-ha-illallaah sudah tidak nampak bunyinya di kehidupan sebagian Onliners.

Tidak ada tuhan selain Allah. Harusnya, tidak ada yang lebih dipikirin kecuali Allah. Nyatanya?

Tidak ada tuhan selain Allah. Harusnya, tidak ada yang lebih dikhawatirkan kecuali Allah. Nyatanya? Kita bisa tuh menomorduakan Allah, lalu mengutamakan meeting dengan client. Menomorsatukan kehadiran pelanggan ketimbang kehadiran Allah. Sebagaimana disebut, sama yang namanya telat absen di kantor di pekerjaan, takutnya masya Allah. Tapi giliran shalat yang juga sebenernya “diabsen” oleh malaikat-malaikat Allah, ga takut telat, dan ga ada perasaan apa-apa ketika telat. Malah ada yang mati rasa dengan sengaja meng-entar-entar-kan jadwal shalat.

Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada tuhan selain Allah. Mestinya, tidak ada yang lebih diburu kecuali Allah. Tapi ya begitu dah. Coba aja dirasakan sendiri.


***


Onliners yang dimuliakan Allah SWT… Saya melihat manusia-manusia yang berat hidupnya dengan beban hidupnya. Sebab ia tidak men-share bebannya itu kepada Allah. Padahal DIA lah Yang Maha Meringankan.

Saya melihat ada yang menangis padahal Allah Maha Membahagiakan; Ada yang hidupnya sulit, padahal Allah Maha Memudahkan; Ada yang bermasalah, padahal Allah Maha Menolong; Ada yang miskin dan menderita, padahal Allah bisa menciptakan kekayaan di hati yang tidak perlu kaya secara dunia; Ada yang kaya, tapi tidak memiliki keluarga. Keluarganya adalah bisnisnya. Keluarganya adalah pekerjaannya. Tawa canda anak-anaknya milik pembantu-pembantu dan supirnya, lantaran ia jarang berkumpul sama anak-anaknya. Pasangan hidupnya juga adalah kesibukannya.

Subhaanallaah, izinkanlah kami-kami menjadi orang kaya yang hidupnya senang ya Allah. Senang dunia akhirat. Bahagia dunia akhirat.

Saya melihat ada yang keluarganya berantakan, sementara ia enjoy dengan hal itu, lalu ia katakan kepada dunia dia mau membentuk keluarga baru yang lebih harmoni; Ada yang hidupnya pindah berpindah, dari kesenangan yang satu ke kesenangan yang lain, hingga jiwanya sendiri lelah mengikutinya. Wajahnya ceria, tapi jiwanya rapuh; Ada manusia yang segalanya ada, tapi penghuni langit tiada mencintainya dan tiada menghargainya. Yang bisa menghormatinya, yang bisa memuliakannya, adalah manusia-manusia yang tiada pernah tahu siapa dia sebenarnya. Dia merasa dunia digenggamnya. Padahal dunia sedang menghinakannya; Ada yang mengenal semua tempat-tempat indah, dan berkeliling dunia. Tapi hatinya, pikirannya, badannya, tiada pernah dibawa menikmati shalat-shalat malam, bahkan keheningan berduaan dengan Pemilik Surga di dalam shalat pun tiada dia kenal; Ada pekerja-pekerja yang mengabdikan hidupnya untuk kerja dan usaha, sehingga sesungguhnya dirinya pun tiada kebagian jam istirahat dan bersenang-senang bahkan.

Saya melihat tidak sedikit manusia yang justru malah mudah mencari dunia. Tapi ia kekeringan. Ada selalu yang diambil sebagai tebusan dari mudahnya ia mendapatkan dunia. Itu saya lihat terjadi sebab kemudahan itu ia dapatkan bukan dengan mentaati Allah, Tuhannya. Sehingga ia tidak sadar bahwa Allah justru mengazabnya dengan dunia-Nya.

Saya melihat begitu banyak manusia dan juga barangkali diri saya, yang diberi Karunia-Nya, tapi bermaksiat dengan karunia dari Allah itu! Padahal ada Allah yang maha melihat dan maha mengawasi. Dan DIA lah yang maha membalas juga apa yang kita perbuat. Yang baik dibayar dengan surga dan keridhaan-Nya. Yang buruk dibalasnya dengan neraka dan kemarahan-Nya.

Saya mengingat analogi maen CATUR yang sering saya sampaikan kepada para pendengar tausiyah saya, yang sesungguhnya saya sedang memperdengarkannya pada diri saya sendiri. Kalau kita maen catur BERDUA, maka berlaku aturan permainan catur. Dimana kuda jalannya L. Peluncur jalannya miring. Pion hanya bisa jalan maju tidak bisa mundur, dan paling banyak hanya bisa jalan dua kotak catur lurus ke depan. Adapun Raja, bila di depannya, seluruh Pion belum dijalankan, dan Peluncur serta Menterinya masih ada di kanan kirinya, maka Raja hanya bisa diam. Tidak boleh ia melompati Raja. Itulah ATURAN CATUR. Tapi itu kalau maen BERDUA. Bagaimana kalau maen catur SENDIRIAN? Kalau maen catur sendirian, ya bebaslah maennya. Tidak berlaku hukum permainan catur. Kita boleh menjalankan Kuda selagu-lagunya. Mau lurus, mau muter-muter, mau lompat, bebas. Peluncur pun mau kita buat jalannya melompat-lompat seperti maen halma, boleh. Bagi Raja, meskipun seluruh pion belum dijalankan, ia pun boleh melompat dan bebas bergerak ke sana kemari. Inilah yang terjadi kalau kita maen catur SENDIRIAN.

Dan bila analogi catur ini boleh dibawa ke urusan tamsil tauhid, maka perlu kita ketahui Allah itu tidak ada sekutu bagi-Nya. Ibarat main catur, ALLAH MAEN SENDIRIAN DI DUNIA INI. TIDAK ADA YANG LAIN.

Kemudahan ada di tangan Allah. Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada yang bisa memberi kemudahan kecuali Allah. Kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, ada di tangan Allah. Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada yang bisa memberi itu semua kecuali Allah. Sama dengan maksudnya itu kalimat; Tidak ada yang bisa memberikan ragam kesulitan kecuali Allah yang hingga Dia lah yang bisa melepaskannya kembali. Kehendak itu kehendaknya Allah. Maka saya kepengen Allah berkehendak memudahkan segala urusan saya. Tapi bila saya menghendaki Allah memberikan kemudahan buat saya, sudah seharusnya saya menjadi hamba-Nya yang mau mengikuti segala aturan-Nya, dan siap untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan-Nya. Saya tidak menjamin diri saya sendiri, bahwa ia akan mendapatkan segala kemudahan apabila Allah tidak saya ikuti. Rasul pun demikian. Ia tidak sanggup menjamin dirinya dan anak keturunannya masuk surga bila tiada ketaatan dan amal salih.

Bila Allah sudah mengatur, maka Kun Fayakuun-Nya yang terjadi. Kuasa-Nya yang terjadi. Karena Dia lah Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada yang mengatur dunia ini kecuali Allah. Saya sangat-sangat bersedia untuk diatur. Sebab saya tahu dan meyakini, dengan sabab ilmu yang diteteskan-Nya pada saya, melalui pengajaran para guru, para orang tua, lewat berbagai media, bahwa kalau Allah sudah mengatur, maka aturan-Nya itulah yang terbaik. Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada aturan yang terbaik kecuali apa-apa yang sudah Allah aturkan.

Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada pemain di dunia ini, kecuali Allah, yang memainkan seluruh peraturan, sebab peraturan adalah peraturan-Nya, dan segala kuasa adalah Kuasa-Nya.

Dengan berpikiran seperti ini, yang harus saya lakukan adalah menyadari semua itu, pasrah berserah diri untuk ikut di dalam aturan-Nya dan mengikuti-nya sepenuh hati dengan kekuatan penuh. Tidak setengah-setengah.

Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada kehidupan kecuali untuk-Nya.

Saya melihat, kegagalan para pencari dunia, baik di tahapan mencari dunia, atau di tahapan menikmati dan mengelola dunia, adalah aktifitasnya tidak dia lakukan karena Allah dan untuk Allah. Andai dia punya visi misi li i’laa-i kalimaatillaah, untuk meninggikan kalimat Allah, maka tidak ada pernah kegagalan baginya…

Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada Tuhan selain Allah yang senantiasa mengawasi apa yang kita lakukan. Bisa kah kita bermaksiat di hadapan Allah Yang Maha Melihat dan Mengawasi? Bisakah kita berbuat dosa di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui? Sedangkan siapa yang sanggup bermaksiat dan berbuat dosa TANPA RIZKI-NYA? Semua bermaksiat dan berdosa dengan memakai pemberian Allah. Laa hawla walaa quwwata illaa billaah. Koq bisa-bisanya berbuat dosa sementara mata dari Allah, telinga dari Allah, tangan dan kaki dari Allah, duit dari Allah? Seseorang bermaksiat dan berbuat dosa sementara kesehatannya adalah dari Allah… Boro-boro dibawa ibadah, dibawa taat, dibawa untuk kebaikan, ini malah dibawa maksiat dan dosa. Udah gitu, berbuat dosa dan maksiatnya, sambil dilliatin sama Allah. Astaghfirullaah… Ampunilah kami-kami ini ya Allah.

Allah melengkapi kita semua dengan kulit. Lah, kelak kulit ini akan diminta Allah bicara. Saya sering mengatakan kepada diri saya dan kepada jamaah semua yang berkenan mendengar dan percaya… Bahwa ada seseorang yang matanya tidak pernah bermaksiat dari lahirnya. Sebab ia buta sejak lahir. Ada seseorang yang telinganya tidak pernah bermaksiat dari lahir. Sebab ia tuli sejak lahir. Ada seseorang yang tidak pernah bermaksiat dengan tangan atau kakinya, sebab lahir tanpa tangan, atau tanpa kaki. Ada seseorang yang tidak pernah bermaksiat dengan duitnya. Sebab ia miskin dari lahir sampe wafatnya. Tapi siapa yang tidak punya kulit? Semua punya kulit. Dan masya Allah nya, kulit ini yang nanti diminta bersaksi. Duh duh duh… Nanti saya ajak deh menyelami ayat-ayat Allah seputar pengawasan dan pembalasan Allah, seputar hari dibangkitkan, seputar hari hisab, dan hari persaksian.


***


Sampe sini, SAYA MEMBACA ULANG TULISAN INI. Tulisan yang dijadikan esai-esai Kuliah Tauhid di KuliahOnline Wisatahati.

Ya, saya membaca ulang apa yang saya tulis. Dari atas, sampai bait ini.

SAYA TIDAK PERCAYA YANG SAYA TULIS. Benarkah yang saya tulis ini? Sehebat itukah tauhid saya?

Tambah ga percaya lagi, bahwa saya sedang mengajar lewat esai ini, Kuliah Tauhid kepada seluruh peserta KuliahOnline.

Adduh, andai benar, saya benar-benar memohon Allah menjadikannya menjadi bait-bait doa agar apa yang tertulis menjadi kenyataan. Allah bimbing saya untuk mencari dunia dengan baik, dan memanfaatkannya dengan baik untuk kepentingan agama-Nya, dan hanya di jalan-Nya. Allah bimbing saya untuk senantiasa mensyukuri segala nikmat, dan meyakini bahwa Laa-ilaa-ha-illallaah, tidak ada sesuatu yang harus dikejar kecuali diri-Nya semata. Yang dengan demikian tidak seharusnya pencarian dunia, berhenti di sebatas mencari dunia itu saja. Terus dikonsentrasikan di pembesaran asma-Nya, di perbesaran manfaatnya.

SAYA MELIHAT DIRI SAYA.

Ya, saya melihat saya!

Saya masuk ke kehidupan saya…

Dan saya menemukan diri ini masih jauh dari tulisan di atas.

Teramat jauh.

Jauuuuuuuuuuhhhh…

Duh, apa sanggup saya menuliskannya lagi bait-bait yang masih menari di hati ini?

Saya ingin berteriak kepada diri saya, tunjukkan kalau Anda benar!

Lagi. Saya melihat diri saya lagi.

Wuh, benar!

Jauh.

Lihat saja. Allah memanggil saya. Memanggil dengan azan. Lihat, saya tidak bergeming. Apakah ini yang disebut Laa-ilaa-ha-illallaah? Tidak ada urusan --harusnya-- kecuali urusan-Nya Allah yang harus lebih kita urus? Nyatanya, saya masih menomorduakan panggilan Allah.

Saya tahu Allah bakal datang. Sebab waktu shalat betul-betul sebentar lagi datang. Tapi saya malah masih nulis, bukan siap-siap menyambut kedatangan-Nya. Dan tidak pagi tidak siang tidak malam, di setiap waktu shalat, saya tahu jadwal shalat. Lalu, bukannya malah menunggu kedatangan Allah, malah jadi Allah yang menunggu saya!

Duh duh duh, lebih pantas rasanya saya menangisi diri ini.

Wahai Kamu! (Begitu saya seharusnya menunjuk hidung saya sendiri dengan jari). Kalau Kamu benar tauhidnya, perlakukan Allah dengan benar. Perhatikan DIA. Tegakkan tauhid dalam kehidupan Kamu! Jangan ada yang laen di hati Kamu, kecuali Allah. Jika ada urusan dunia, lalu Allah datang memanggil, ya segera tinggal saja. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini kecuali menegakkan shalat. Maka bahagian menanti berkumandangnya azan adalah hal yang mestinya menjadi hal yang luar biasa.

Saya ingin berteriak kepada diri saya, buktikan kalau Anda benar! Benar tauhidnya. Benar sudah mengatakan Laa-ilaa-ha-illallaah. Nyatanya? Belum tuh.

(+) Loh loh loh… Ntar dulu... Sebenarnya, sedang dialog sendirian, mengajar… Atau sedang menulis sih?

(+) Maaf wahai tanganku, saya sedang berdialog dengan diri sendiri.

Biarkan.

Biarkan ia terus menulis sekenanya.

Sesukanya.

Ya. Saya melihat saya. Jauh benar dari menjadikan Allah sebagai tujuan hidup.

Ketika mencari dunia, mau bersusah payah. Tapi giliran beribadah, gampang benar teriak lelah.

Shalat sunnah tidak dipaksakan untuk ditegakkan. Shalat berjamaah tidak dipaksakan untuk dikejar di shaf yang pertama. Kehadiran diri tidak digunakan untuk kepentingan sesama. Setidaknya belum dimaksimalkan potensinya untuk ditujukan pada sebesar-besarnya kepentingan sesama, dan agama. Keluarga masih terabaikan.

Kurangnya… banyak.

Itulah. Saya melihat saya.

Tapi, Laa-ilaa-ha-illallaah.

Tidak ada yang mengajarkan ilmu dan memberikan kesempurnaan langkah kecuali Allah. Maka saya menghibur diri ini, Laa-ilaa-ha-illallaah. Biarlah Allah membimbing saya terus, sehingga bisa menjadi hamba-Nya yang sesuai dengan apa yang digariskan-Nya.

Ah dunia. Saya tulis Kuliah Tauhid ini agar saya tidak susah mencari kamu wahai dunia. Tapi saya ingatkan juga diri saya, bahwa kamu itu tidak penting. Laa-ilaa-ha-illallaah. Tidak ada yang lebih penting kecuali Allah.

Saya tulis Kuliah Tauhid ini, sebab kasihan melihat diri saya yang sering kesusahan mencari dunia untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan diri. Tapi betapapun, saya hidup di dunia ini. Rasul pun mengajarkan doa agar kita memohon kepada Allah agar Allah membaguskan dunia kita sebab di sini kita hidup. SAYA BERTUHAN ALLAH. MENGAPA setelah Tuhan saya adalah Allah, dan Allah adalah pemilik segala apa yang ada di dunia ini, LALU HIDUP SAYA TETAP SUSAH? Atau merasa susah? Itu tandanya saya belum benar-benar bertuhan Allah. Itu saja.

Eh saya, ayo maju terus! Sempurnakan terus ilmu dan ikhtiarmu. Jangan lupa terus memohon bimbingan dari Allah.

Udah mau shubuh tuh. Ayo mandi. Siap-siap menuju masjid. Katakan kepada dunia, bahwa kamu mau shalat shubuhan dulu. Kalau shalat shubuh sudah tidak disiplin, jangan harap ini menjadi awal hari yang baik, untuk dunia kamu, untuk urusan permasalahan kamu, untuk segala hajat kamu…

(+) Loh, koq masih nulis terus? Katanya mau Shubuhan?

(-) Iya iya. Saya akan segera berhenti mengetik, dan men-shut-down komputer ini. Makasih yaaa.


***


Salam. Yusuf Mansur. Kampung Ketapang, Senin 27 Agustus 2007, pukul 04.38 WIB. (tulisan ini “sudah berulang tahun berkali kali” he he he. Mudah-mudahan Allah subhaanahuu wata’aala benar-benar menjadikan kita sebagai orang-orang yang mengEsakan-Nya, bertauhid hanya pada-Nya).







Munajat


Bismillaahirrohmaanirrohiim. Ya Allah, berilah kami ilmu yang berguna, yang bisa membuat diri kami, istri/suami kami, anak-anak kami dan keturunan-keturunannya, orang-orang tua kami, keluarga kami, sahabat-sahabat kami, jadi saleh salehah lagi bagus iman islam dan banyak amalnya.

Berilah kami ilmu yang dengannya terang pula jalan hidup kami, bagus dunia akhirat kami. Berilah kami ilmu ya Allah yang bisa mengubah kami semakin lagi menjadi orang yang bersyukur, bersabar, bisa ridha akan segala Ketetapan, Ketentuan, dan Pemberian-Mu.

Jadikan kami yakin akan janji-janji-Mu, istiqomah, dan senantiasa baik sangka kepada-Mu. Izinkan kami mengenal-Mu ya Allah, dengan segala keMahaan-Mu

Mudahkan semua urusan kami, ringankan beban kami, berikanlah kami jalan keluar di setiap kesulitan kami.

Engkau lah Yang Maha Perkasa, Engkaulah Yang Maha Bijaksana. Engkaulah Pemilik Segala Kemudahan, Kehendak, dan Pertolongan. Saatnya kami datang kepada-Mu, tolonglah ya Allah, hapuslah catatan buruk hidup kami. Jangan biarkan malaikat yang pastinya sudah mencatat segala perbuatan kami, menghidangkan kitab itu di hadapan kami dan di hadapan-Mu.

Ampuni kami semua ya Allah dan wafatkanlah kami dalam keadaan yang husnul khatimah.

Duhai Pemilik Kehidupan dan Kematian, hanya Engkau pula yang bisa meringankan dan menyelamatkan jalan hidup kami dan juga jalan matinya kami ‘tuk menghadap-Mu.

Dekatkan kami dengan al Qur’an, dan ajarkan kami as Sunnah. Agar terang pula kubur kami, lapang kubur kami, dan Engkau Yang Menjanjikan Siksa Kubur, berkenan menghilangkan siksa kubur itu dari kami.

Wahai Allah Pemilik Negeri Akhir, Kasih Sayang-Mu membuat kami yakin bahwa Engkau berkenan menutup pintu neraka-Mu dan membuka pintu surga-Mu untuk kami, betapapun jeleknya ibadah dan kelakuan kami.

Yaa Haadi, berilah kami petunjuk untuk menjadi hamba-Mu, dan ummat Nabi-Mu yang baik. Jadikan perkumpulan kami ini perkumpulan yang Engkau ridhai. Perkumpulan yang saling ingat dan mengingatkan, dan bersama-sama menuju diri-Mu dan mendekatkan diri kepada-Mu.

Terima kasih atas segala nikmat-Mu yang sejujurnya kami malu belum bisa menggantinya dengan bagusnya ibadah kami kepada-Mu. Shalawat serta salam kami haturkan kepada Kekasih-Mu Rasulullah Muhammad sholla ‘alaih, agar Engkau berkenan pula mengumpulkan kami dan segenap orang-orang yang kami cintai bersama Rasul-Mu Muhammad, satu surga di Surga-Mu nanti. Amin ya Allah.

Jangan biarkan kami tersesat di dunia ini, apalagi di padang makhsyar nanti. Jangan biarkan juga kami lemah hidup ini, sebab hidup tanpa diri-Mu. Jangan biarkan kami ini kepayahan lantaran tidak mengenal Kekuasaan dan Kebesaran-Mu. Lindungi kami ya Rabb, bimbing kami, dan tolong kami.

Jika kami masih bisa membaca ini, maka perkenanlah kami betul-betul menjadi hamba-Mu yang bertaubat, berbuat baik, dan bersungguh-sungguh menjaga dan melaksanakan ibadah kepada-Mu.

Ya Rabb, jadikan semua anak-anak keturunan kami anak-anak yang menghafalkan al Qur’an, apapun nanti profesi mereka. Kenalkan mereka juga pada tuntunan Rasul-Mu, lebih baik dari kami mengenal al Qur’an dan as Sunnah.

Hadiahkan kami anak-anak keturunan yang menyenangkan hati kami dan bisa menyelamatkan kami di kehidupan dunia ini dan di kehidupan akhirat kelak, dengan amal-amal mereka yang Engkau ridhai, dan doa-doa mereka yang Engkau terima.

Selamatkan kami dengan menyelamatkan anak-anak keturunan kami dengan keluarga-keluarganya. Ya Allah, kuatkan juga anak-anak keturunan kami, kuatkan dunianya, kuatkan akhiratnya. Baguskan dunianya, baguskan juga akhiratnya.

Kepada-Mu kami beristighfar.